Data dan analisa




Yüklə 84.2 Kb.
tarix22.02.2016
ölçüsü84.2 Kb.
BAB 2

DATA DAN ANALISA
2.1 Sumber Data

Data dan informasi untuk mendukung proyek Tugas Akhir ini diperoleh dari berbagai sumber, antara lain :

1. Literatur

Penulis memakai banyak buku untuk mengetahui tokoh-tokoh Ramayana seperti dari buku Atlas Tokoh-Tokoh Wayang dari Riwayat sampai Silsilahnya karya Bendung Layung Kuning dan Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya karya Drs. Moehkardi. Selain itu buku yang digunakan adalah komik Ramayana karya R.A Kosasih.

Selain itu penulis juga menggunaka buku ilustrasi kontemporer sebagai referensi, seperti Overkill karya Tomer Hanuka, Rebus karya James Jean dan buku kumpulan ilustrasi kontemporer Illustrator’s Unlimited the Essence of Contemporary Illustration.

2. Sarana entertainment

Untuk lebih mengenal kisah dan tokoh Ramayana, penulis memakai saran entertainment berupa film. Film yang dimaksud adalah film animasi Ramayana: The Epic yang diproduksi oleh produser India dan ditayangkan perdana pada tahun 2010. Selain itu penulis juga menggunakan film animasi festival Sita Sings the Blues karya Nina Paley, film tersebut memadukan kisah Ramayana dengan konten modern.

3. Survey

Penulis juga melakukan survey ke berbagai tempat untuk memperkuat data dalam pengenalan tokoh Ramayana. Tempat yang penulis kunjungi adalah Museum Wayang Jakarta dan pertunjukkan Sendratari Ramayana di Purawisata Yogyakarta, yang diselenggarakan setiap hari. Selain itu penulis juga melakukkan survey ke komunitas ilustrasi Kopi Keliling.

4. Kuesioner

Penulis menyebarkan kuesioner melalui internet untuk mengetahui pandangan publik mengenai tokoh-tokoh dalam Ramayana dan bagaimana tanggapan mereka. Berdasarkan kuesioner yang penulis sebarkan kepada 100 responden berusia 18 tahun hingga 25 tahun keatas dan berjenis kelamin pria maupun wanita golongan A-B menunjukkan sebesar 86% responden pernah mendengar kisah Ramayana namun tidak begitu jelas dan sebesar 69% responden hanya mengetahui beberapa tokoh saja dalam kisah Ramayana. Selain itu penulis mendapatkan 74% responded kesusahan dalam menentukan tokoh dalam kisah Ramayana dikarenakan penggambaran visualnya yang serupa dan sering tertukar dengan kisah pewayangan lainnya.
2.2 Data Umum Ilustrasi

2.2.1 Sejarah Ilustrasi

Ketika kita membicarakan gambar dalam konteks Ilustrasi berarti memperbincangkan gambar dalam bingkai fungsi. Sisi fungsi sangat melekat dalam kata ‘Ilustrasi’. Hal ini terjadi karena dalam sejarahnya kata “Illustrate” muncul akibat pembagian tugas fungsional antara teks dan gambar. Dari etimologinya Illustrate berasal dari kata ‘Lustrate’  bahasa Latin yang berarti memurnikan atau menerangi. Sedangkan kata‘Lustrate’ sendiri merupakan turunan kata dari * leuk- (bahasa Indo-Eropa) yang berarti ‘cahaya’ (Grolier Multimedia Encyclopedia 2001). Dalam konteks ini Ilustrasi adalah gambar yang dihadirkan untuk memperjelas sesuatu yang bersifat tekstual.

Ilustrasi adalah anak industrialisasi yang mendambakan spesialisasi dalam mekanisme kerjanya. Pada awal abad pertengahan terjadi pembagian tugas kerja antara seorang ’Scrittori’ dan seorang ’Illustrator’ dalam pembuatan sebuah illuminated manuscript.Posisi seorang Scrittori bertugas untuk menyiapkan dan mendesain huruf atau kaligrafi dari teks sebuah buku atau manuskrip. Sedangkan seorang Ilustrator bertugas untuk memproduksi ornamen dan gambar yang memperjelas isi teks. Pemilahan tersebut mengawali dan mempertegas istilah Ilustrasi menjadi selalu berdimensi fungsi.

Fungsi memperjelas sebuah teks atau bahkan memberi sentuhan dekorasi pada lembar-lembar teks memberi gambaran bahwa saat itu gambar (ilustrasi) adalah subordinan dari teks. Gambar adalah pelengkap teks. Gambar hanyalah wahana untuk mengantarkan pemahaman secara lebih utuh dari sebuah teks. Seorang Ilustrator harus dapat memahami isi teks dan kemudian mengilustrasikannya dalam bentuk gambar. Kemampuan mentranslasikan dari sesuatu yang tekstual ke dalam bentuk yang visual menjadi poin penting sebagai seorang Ilustrator. Ilustrator berperan sebagai penerjemah (interpreter) ke pada pembaca dari sesuatu yang abstrak (wilayah bahasa/tekstual) ke dalam sesuatu yang konkret sifatnya (wilayah rupa). Tuntutan kepiawaiannya tidak berhenti pada tataran olah rupa (visualisasi) saja, tetapi juga mencakup wawasan (pemahaman terhadap teks) dan olah komunikasinya (bagaimana cara menyampaikan kepada pembacanya melalui rupa). Posisi Ilustrator dalam hal ini adalah sebagai visual interpreter. Secara fungsional Ilustrator berada di posisi antara (in between) penulis dan pembacanya. Di sisi lain posisi seorang Ilustrator adalah sebagai seorang visual dekorator. Menyiapkan iluminasi sebagai bingkai penghias ataupun mengisi ruang-ruang kosong dalam sebuah manuskrip. Era illuminated manuscript ini berakhir ketika gambar yang sebelumnya dieksekusi melalui teknik manual, mulai dicetak dengan teknik woodcut.

Selanjutnya mekanisasi dan massalisasi sebuah buku menjadi semakin menemukan bentuknya dengan penemuan movable type (1451). Walaupun penyajiannya tidak terlalu beranjak jauh dari era illuminated manuscript; unsur dekorasi dalam bentuk ornamen membingkai tiap halamannya dan gambar kadang tampil penuh satu halaman sebagai penjelas teks.

Pada akhir abad 18, muncul sebuah Gerakan Romantik yang kemudian mempengaruhi pergeseran posisi seorang Ilustrator dan fungsi dari Ilustrasi. Gagasan baru yang ditawarkan adalah seorang ilustrator selayaknya bebas dalam menginterpretasikan sebuah teks dengan keliaran imajinasinya. Ilustrator menjadi lebih mandiri. Posisi yang pada awalnya subordinan dari teks, kini memiliki nilai tawar dan tempatnya sendiri. Kebebasan berkreasi tersebut menjadikan ilustrator bagai seorang seniman. Konsep ini sebenarnya telah muncul lebih dulu pada abad 6 SM di Cina. Pada masa itu, seorang pelukis juga seorang penyair. Dengan demikian, karyanya mencerminkan gabungan dari keduanya.

Perkembangan selanjutnya mencapai titik puncak pergeseran fungsi Ilustrasi adalah pada abad 19 di Perancis. Penanda penting adalah dengan munculnya Livre De Peintre (painter’s book). Ilustrasi tidak hanya menjadi bagian atau pelengkap sebuah buku, tetapi menjadi sesuatu yang sifatnya lebih dominan. Buku – buku tersebut di desain oleh para seniman dan diproduksi dalam jumlah terbatas. Livre yang cukup berpengaruh adalah Pararellment karya Pierre Bonnard yang ditulis oleh Paul Verlaine. Seniman-seniman lain yang juga menghasilkan livre adalah Henry Matisse, Marc Chagall dan Pablo Picasso.

Kemandirian Ilustrasi bahkan kemudian semakin dikukuhkan dengan aktifitas-aktifitas jurnalisme visual oleh para seniman yang terjun langsung di daerah peperangan untuk mengabadikan secara on the spot melalui sketsa dan gambar, ataupun para Kartunis dengan komentar-komentar visualnya melalui kartun opininya. Dalam konteks ini Ilustrasi sudah tidak berfungsi sebagai penjelas teks, tetapi sebagai teks (visual) yang berdiri sendiri. Ilustrasi tidak sebagai perantara dari penulis kepada pembacanya, tetapi posisi Ilustrator sebagai author itu sendiri. Ilustrasi menemukan otonominya sendiri.



2.2.2 Ilustrasi di Indonesia

Di Indonesia, sejarah tradisi ilustrasi dapat merujuk kepada lukisan gua yang terdapat di Kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan dan di pulau Papua. Jejak ilustrasi yang berumur hampir 5000 tahun itu menggambarkan tumpukan jari tangan berwarna merah terakota. Selain lukisan gua, wayang beber dalam hiburan tradisional Jawa dan Bali dilihat sebagai ilustrasi yang merepresentasikan alur cerita kisah Mahabarata, tradisi yang kira-kira muncul bersamaan dengan berdirinya kerajaan Sriwijaya yang menganut agama Hindu di Pulau Sumatera bagian Selatan.

Sejarah panjang Ilustrasi tidak bisa dilepaskan dari dunia buku. Pemahaman kita terhadap fungsi Ilustrasi sebagai penjelas, memperindah atau bahkan pemahaman fungsi yang lebih avant garde tidak terpisah dari perkembangan dan pemaknaan ulang media di mana ilustrasi tersebut diaplikasikan. Pergulatan panjang posisi Ilustrator melalui cara ungkap visual maupun pesan tidak lepas dari semangat jamannya.

Di Indonesia karya Ilustrasi dapat kita jejak melalui artifak-artifak visual naratif yang ada. Merunut khasanah visual naratif di Indonesia tidak kalah panjang dengan sejarah visual naratif di belahan dunia lainnya. Catatan-catatan visual di garca-garca goa yang bertebaran dari Leang-leang di Sulawesi sampai goa Pawon di Jawa Barat menjadi penanda bertutur visual era pra sejarah. Gambar-gambar pada lembar-lembar lontar ataupun pada media Wayang Beber menandai era pra modern. Di era kolonialisasi muncul media-media modern seperti majalah atau surat kabar. Melalui media surat kabar ataupun majalah tersebut terjadi transfer ilmu (ilustrasi) baik teknis maupun gagasan dari Ilustrator asing (penjajah) kepada para Ilustrator bumi putra. Walaupun istilah ’Ilustrasi’ bukan dari kamus bahasa kita sendiri, secara subtantif artifak-artifak visual/gambar tersebut memiliki kesamaan secara fungsional, menjelaskan atau menerangkan.

Dari rentang waktu antara th 1920-1960 (di Indonesia) dari artifak yang berhasil dikumpulkan (dalam media massa) akan memberi gambaran dinamika Ilustrator dan karya Ilustrasinya. Pengklasifikasian artifak temuan terdiri dari dua jenis: ilustrasi untuk rubrikasi dan ilustrasi yang menjelaskan cerita atau artikel.

Ilustrasi pada rubrikasi secara fungsi menjelaskan atau memberi gambaran umum tentang isi rubrik yang diwakilinya. Wakil-wakil visual adalah resonansi dari judul-judul rubrikasi. Sebagai contoh, judul sebuah rubrikasi ”PAGERAKAN” atau pergerakan wakil visual yang hadir adalah sosok pemuda berjas dan berpeci dengan gestur bergerak dinamis sebagai foreground. Ikon catatan-catatan dan suluh lilin menjadi pelengkap penjelas rubrikasi tersebut dalam background nya. Ada korelasi yang jelas antara gambar dan teks. Gambar berfungsi memperjelas teks. Ilustrasi sebagai interpretasi visual terhadap teks.

Beberapa artifak rubrikasi dijumpai juga gambar-gambar memiliki korelasi terasa jauh atau bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan rubrik yang diwakilinya. Teks bertuliskan ”Panjebar Semangat” sedangkan wakil visual yang hadir adalah gambar pegunungan dengan sawah dan petani, atau stilasi Kala menyerupai ukiran pintu gerbang. Pemilihan wakil-wakil visual tersebut dapat kita baca lebih simbolis. Gambar landscape gunung beserta sawah dan petani ataupun stilasi Kala tersebut sebagai subtitusi Nasionalisme atau Negara Indonesia. Relasi antara gambar dan teks melalui pendekatan simbolis seperti itu-pun masih terasa jauh. Relasi gambar dan teks tidak langsung menjelaskan, terkadang malah terjebak sebagai dekorasi saja. Fungsi gambar pada ilustrasi rubrikasi jenis ini memiliki kecenderungan besar kearah ilustrasi sebagai dekorasi visual, walaupun tidak menutup kecenderungan lainnya.

Kategori lainnya adalah gambar–gambar yang menyertai teks di dalam media massa. Artifak visual biasanya muncul mengiringi teks pada cerpen dan tajuk utama atau editorial. Seorang Ilustrator dalam menanggapi teks melalui gambar atau wakil visual yang dihadirkannya dapat kita klasifikasikannya dalam dua pola; pertama, bagaimana Ilustrator mengolah pesan (what to say), kedua, adalah bagaimana cara Ilustrator mengolah rupa (how to say). Hampir sebagian besar artifak visual yang telah dikumpulkan bersifat Naratif dalam olah pesannya. Dalam hal ini berarti Ilustrator memposisikan dirinya sebagai interpreter visual. Modusnya mencoba menterjemahkan teks dengan mencari moment yang paling menarik dan mewakili dari naskah tersebut, kemudian mencari wakil visualnya yang paling gamblang/jelas dalam menyampaikan pesan. Beberapa artifak tampil unik dengan menggunakan pendekatan olah pesan yang lebih metaforik. Artifak yang muncul di harian Fikiran Ra’jat (1932), menggambarkan permasalahan imperialisme dengan metafora seekor anjing berjenis Bulldog berkalung leher bertuliskan “Imperialisme“, dengan ujung ekor muncul sosok kepala priyayi jawa yang bertuliskan “boeroeh imperialisme”. Permainan subtitusi visual menghasilkan kiasan-kiasan tak langsung menguatkan pesan yang disampaikannya. Ilustrator dengan pendekatan metafora, sedikit atau banyak telah memasukkan opini pribadinya dalam menanggapi teks yang ada. Gambar tidak hanya sebagai penjelas teks, tetapi sudah bergeser pada opini visual yang lebih personal. Ilustrasi mulai mencari ruang-ruang otonominya.

Pada wilayah olah rupa, terjadi eksplorasi yang cukup luas (dalam keterbatasan teknis yang ada) dari gaya visual yang rumit, realis, obyektif dan khusus sampai ke wilayah ujung paradoksnya yang sederhana, ikonis atau abstrak, subyektif dan umum. Rentang waktu antara tahun 1929 sampai 1951/53, sebagian besar ilustrator menggali potensi garis, outline, dan bidang-bidang datar. Garis-garis liris maupun ekspresif melalui media gambar pena, tinta dengan kuas menghasilkan kualitas visual yang khas. Garis arsir membentuk tonal gradasi maupun gelap terang dari obyek-obyek yang dihadirkannya. Di tahun 1956 ditemukan artifak ilustrasi bernada penuh dengan gradasi yang halus. Kecenderungan tersebut dihadirkan melalui pendekatan teknis hitam putih media cat air. Gaya gambar yang muncul lebih realis mendekati karya fotografis. Di akhir 60-an muncul kecenderungan baru dalam mengolah huruf sebagai bagian dari gambar. Tipografi sebagai gambar (type as image) adalah sebuah kesadaran baru dari para ilustrator di era tersebut. Kemampuan olah huruf sebagai pendukung resonansi visual, mengingatkan kita pada Onomatopea di ranah seni sekuensial.

2.3 Data Umun Seni Tradisional

2.3.1 Seni Tradisional

Seni Tradisional merupakan unsur budaya yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Berbicara tentang seni tradisional tentu merupakan kaarya seni budaya yang sangat dikagumi oleh bangsa Indonesia, karena mempunyai keunikan yang beragam

Setiap pulau atau wilayah di Indonesia memiliki seni tradisional atau kebudayaan yang memberikan ciri khas wilayah tersebut. Beberapa seni tradisional di Indonesia terkadang bukan asli berasal dari wilayah tersebut sehingga terjadi kemiripan seni tradisional di beberapa tempat. Contohnya adalah wayang, di Indonesia sendiri seni pertunjukan wayang berasal dari dari beberapa wilayah sekaligus, tapi dengan adanya diferensiasi kebudayaan di setiap wilayah, wayangpun memiliki banyak variasi dan memiliki ciri khas tersendiri di setiap wilayah masing-masing seperti wayang golek asal Jawa Barat dan wayang purwa asal Jogjakarta.

2.3.2 Wayang di Indonesia

Seni pertunjukan wayang sangat berkembang di Indonesia khususnya di pulau Jawa dan Bali. Wayang adalah pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, dan sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur. Bukan cuma di Indonesia yang memiliki seni pertunjukan boneka namun banyak negara memiliki pertunjukkan boneka sejenis. Pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia. Dan untuk itulah UNESCO memasukannya ke dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2003.

Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukkan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun demikian, kejeniusan local, kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukkan yang masuk memberi warna tersendiri pada seni pertunjukkan di Indonesia. Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukkan wayang berasal dari Prasasti Balitung di Abad ke 4 yang berbunyi “si Galigi mawayang”

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, dimana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, dimana saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit.

Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

Pun ketika misionaris Katolik, Pastor Timotheus L. Wignyosubroto SJ pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber cerita berasal dari Alkitab.

2.3.3 Jenis Wayang

Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yangterbuat dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang. Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaanbudaya daerah setempat.



  • Wayang Kulit

  • Wayang Wahyu

  • Wayang Golek/ Wayang ThengulBojonegoro

  • Wayang Menak

  • Wayang Krucil

  • Wayang Klitik

  • Wayang Purwa

  • Wayang Suluh

  • Wayang Beber

  • Wayang Papak

  • Wayang Orang

  • Wayang Madya

  • Wayang Gedog

  • Wayanng Parwa

  • Wayang Sasak

  • Wayang Sadat

  • Wayang Calonarang

  • Wayang Kancil

2.3.4 Sendratari

Arkeologi Belanda terkenal, Dr AJ Bernet Kempers, dalam bukunya Ancient Indonesia Art mengatakan bahwa memiliki bakat kodrati dalam bidang seni dan kerajinan tangan merupakan cirri khas bangsa Indonesia. Salah satu cabang seni yang berkembang cukup subur adalah seni tari. Menurut Dr Soedarsono, pakar tari Indonesia terkemuka, tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah. Bangsa Indonesia, yang terdiri atas berpuluh-puluh suku bangsa dan masing-masing memiliki adat dan tradisi sendiri itu, sangat kaya dengan berbagai jenis tari.

Drama tari adalah karya tari yang berpijak pada alur cerita tertentu misalnya Ramayana. Dipandang dari jumlah penarinya, missal tari tunggal atau tari duet, drama tari dapat digolongkan sebagai tari massal karena jumlah penarinya yang banyak. Drama tari bisa digolongkan menjadi tiga macam, yaitu tari berdialog prosa, contohnya wayang wong, drama tari berdialog tembang (drama tari opera), contoh langendarian Jawa Tengah, dan tari drama tari tanpa dialog yang disebut sendratari (seni drama tari), contohnya Sendratari Ramayana di Prambanan. Berdasarkan uraian di atas, Sendratari Ramaya bila dipandang dari segi isi dan temanya tergolong sebagai drama tari, dari fungsinya adalah tarian pertunjukan, dari segi bentuk koreografinya berupa tarian klasik, dan bila ditinjau dari jumlah penarinya termasuk tarian massal.
2.4 Data Umum Ramayana

2.4.1 Sejarah Ramayana

Ramayana adalah epos India yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Asia Tenggara. Di Indonesia, kita mengenalnya melalui komik, prosa, drama dan wayang, bahkan serialnya pernah disiarkan di televisi. Kisah tersebut rupanya berkenan di hati orang Indonesia. Bahkan bila dilihat dari bukti-bukti arkeologi dan sastra kuno, Ramayana telah dikenal dan digemari nenek moyang kita sejak abad ke-9. Sementara di kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Burma, Thailand, Laos, Kamboja, dan Malaysia, Ramayana sudah dikenal sejak kurun waktu yang lebih tua, yaitu abad pertama masehi.

India, negri asal Ramayana, memiliki dua epos termahsyur, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua epos tersenut disebarluaskan lewat sastra tulis dan lisan dari generasi ke generasi. Di India, kedua epos tersebut tidak hanya dipandang sebagai karya sastra tulis, melainkan buku keagamaan karena isinya yang sarat ajaran moral. Ramayana menceritakan kisah Rama dan Sita dari kerajaan Kosala di India utara yang beribukota Ayodya, melawan Ravana, Raja Lanka (sekarang Sri Lanka).

Ramayana disusun dari 200 SM hingga 200 M. Pengarangnya bernama Valmiki, atau di Indonesia dikenal dengan Walmiki. Ramayana terdiri dari 24.000 sloka dan terbagi menjadi 7 kanda (jilid), dan sisipan hanya terdapat pada kanda pertama dan terakhir. Ditinjau dari segi sastra, mutu penulisan setiap kanda Ramayana relatif sama karena pengarangnya satu orang, sedangkan Mahabarata berbeda-beda, pertanda bahwa buku tersebut ditulis oleh lebih satu orang. Di Indonesia Mahabarata lebih populer dibandingkan Ramayana, namun begiru, di Asia Tenggara lainnya, epos Ramayana lebih digemari daripada Mahabarata.



2.4.2 Kisah Ramayana

Dikisahkan di sebuah negeri bernama Mantili ada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Shinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu Shinta, dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya. Namun dalam kisah ini ada juga seorang raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Shinta

tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Shinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Dalam sebuah perjalanan Rama dan Shinta dan disertai Lesmana adiknya, sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka, si raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga, khususnya Shinta. Rahwana ingin menculik Shinta untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri, dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang ‘jadi-jadian' itu, karena Dewi Shinta menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedang Shinta dan Lesmana menunggui.

Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Shinta mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Shinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya, jadi Shinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rahwana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Shinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Shinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah, secara tidak sadar Shinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun! Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Shinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Shinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Shinta. Jatayu dapat mengenali Shinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.

Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Shinta ditinggal sendirian, namun sesampainya Shinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Shinta adalah Rahwana! Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.

Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Shinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Shinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman persi ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Shinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.

Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Shinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Shinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana, selain itu juga berusaha membujuk Shinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan ‘memaksa' Shinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya yaitu ingin membunuh Shinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Shinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Shinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.

Setibanya di istana Rahwana terjadi peperangan, dimana awalnya pihak Alengka dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajit. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja.Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pad akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.

Setelah semua pertempuran yang dasyat itu dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Shinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama Shinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istananya masing-masing. 

2.4.3 Tokoh-tokoh Wayang Ramayana


  • Anggada

  • Anila

  • Anjani

  • Anoman ( Hanuman )

  • Aswanikumba

  • Barata

  • Bisawarna

  • Bukbis

  • Dasarata

  • Gunawan Wibisana

  • Guwarsa ( Subali )

  • Guwarsi ( Sugriwa )

  • Indrajid

  • Jambumangli

  • Janaka

  • Jatasura

  • Jatayu

  • Jembawan

  • Jembawati

  • Kalamarica

  • Kapi Menda

  • Kapi Saraba

  • Kapi Suweda

  • Kekayi

  • Kumba-kumba

  • Kumbakarna

  • Lawa dan Kusya

  • Laksmana Widagda ( Laksmana )

  • Lembusura

  • Mahesasura

  • Prahasta

  • Rahwana

  • Raghu ( Sukasalya )

  • Rama Wijaya ( Rama )

  • Sarpakenaka

  • Sayempraba

  • Sempati

  • Sinta

  • Sumitra

  • Tara dan Tari

  • Trijata

2.4.4 Ramayana di Indonesia

Naskah Ramayana tertua di Indonesia adalah Ramayana, yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dalam bentuk kakawin, yaitu syair yang dilagukan (selanjutnya kita sebut Ramayana Kakawin). Menurut cerita di Bali, Ramayana Kakawin ditulis oleh Yogiswara. Tapi pendapat tersebut disangkal oleh Prof. Dr RM Ng. Poerbatjaraka, pakar epigraf pertama Indonesia. Menurut Poerbatjaraka, kata Yogiswara yang tertera di bagian akhir naskah tersebut bukan nama orang melainkan istilah yang berarti pendeta. Pengarang kitab tersebut hingga kini belum diketahui dengan pasti.

Mengenai kapan Ramayana Kakawin ditulis, masih terdapat perbedaan di antara para ahli. Prof. Dr H Kern, sarjana Belanda yang pada 1906 menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Jawa, menduga Kakawin ditulis pada abad ke-13. Poerbatjaraka, yang melakukan penelitian mendalam pada naskah tersebut, berpendapat bahwa Ramayana Kakawin ditulis pada zaman Raja Mataram Rakai Watukara Dyah Balitung (900-908 M). Hasil penelitian terakhir dari sarjana Jerman, W Archele, menyatakan tahun yang lebih awal, yaitu tahun 850, pada zaman Raja Mataram Rakai Pikatan. Kalau pendapat kedua sarjana terakhir itu benar, berarti Ramayana Kakawin merupakan karya sastra Jawa Kuno tertua.

Poerbatjaraka memuji Ramayana Kakawin sebagai karya sastra Jawa Kuno terindah. Ucapnya, "Seumur hidup belum pernah saya membaca kitab Jawa yang memadai kitab Ramayana Kakawin dalam hal bahasanya. Betapa pandainya sang pujangga menyusun kata dan bermain metafora, seperti terlihat dalam cuplikan bait 24 dan 25 dari sarga VIII Ramayana Kakawin, yang melukiskan kesedihan dan rindu dendam Rama setelah kehilangan Sinta:

"Bila kulihat kijang,

kuterkenang kan pandang matamu yang jelita.

Bila ku melihat gajah,

Sadarlah aku betapa besar keterlibatanmu dalam kesusahan.

Air dalam kedalaman telaga berombak-ombak,

Bagaikan gerak lunglai lenganmu.

Sayap merak mengingal bersinar mengkilap,

Bagaikan gemerlapnya tata rias rambutmu."

Ramayana Kakawin memiliki kisah yang agak berbeda dari Ramayana versi Walmiki. Pada Ramayana Kakawin tidak terdapat Kanda Pertama dan Kanda Ketujuh dan cerita berakhir setelah Sinta, melalui api unggun, terbukti kesuciannya. Hasil penelitian Poerbatjaraka dan sarjana-sarjana setelahnya, seperti C Hooykaas, menunjukkan bahwa sumber Ramayana Kakawin bukanlah Ramayana Walmiki, melainkan Ravanavadha karangan pujangga Bhatti dari India yang ditulis sekitar 500-600 M. Perbandingan secara mendetail antara Ramayana Kakawin, Ravanavadha, dan Ramayana Walmiki yang dilakukan oleh Hooykaas mengungkapkan bahwa sampai dengan syair XVI penggubah Ramayana Kakawin mengikuti Ravanavadha dengan menyisipkan hal-hal yang dianggap perlu, sesuai seleranya, misalnya uraian tentang Nitisastra, Percandian Siwa, dan adegan Rama menerima dan membaca surat dari Sinta. Namun mulai sarga XVII sampai akhir (sarga XXVI), Kakawin sangat menyimpang dari Ravanavadha. Beberapa bagian dari sarga XVII sampai dengan XXVI ditemukan kembali dalam karya Walmiki. Sarga adalah satu kelompok syair yang mengisahkan peristiwa tertentu.

Uraian tentang Nitisastra terdapat pada Sarga III, bait 53- 85, ketika Rama menyuruh Barata, adiknya, untuk memerintah di Ayodya mewakili dirinya, dan membekalinya dengan ajaran tentang tingkah laku dan kewajiban seorang raja. Uraian tentang Nitisastra yang termasuk ajaran abstrak terdapat juga pada sarga XXIV, bait 43-86, yaitu ajaran Rama kepada Wibisana, yang ditetapkan sebagai raja Alengka untuk menggantikan kakaknya, Rahwana.

Sedangkan uraian tentang Percandian Siwa terdapat dalam sarga XVIII, bait 43-58. Poerbatjaraka berpendapat bahwa sang pujangga, dalam membuat uraian itu, membayangkan Percandian Siwa di Prambanan berada di depan matanya. Atas dasar analisa itu, ia berpendapat bahwa Ramayana Kakawin dibuat sezaman atau setelah Candi Prambanan berdiri. Karena itu relief Ramayana di Candi Prambanan tidak bersumber kepada Ramayana Kakawin; versi Ramayana Prambanan lebih mirip dengan Hikayat Sri Rama yang ditulis dalam bahasa Melayu.

2.4.5 Ramayana di Negara lain

Ramayana memang punya banyak versi. Di India sendiri, di luar Ramayana Walmiki, terdapat berpuluh-puluh versi cerita Rama seperti Adhyatma Ramayana, Adbhuta Ramayana, Vishnu Purana, Mahi Ravaner Pala, dan masih banyak lagi. Hampir tiap suku dan golongan agama Hindu di India memiliki versi sendirisendiri tentang cerita Rama, ada yang sedikit perbedaannya, tapi ada pula yang besar. Sementara tokoh Rama sendiri lama kelamaan memiliki rupa yang beragam. Ada yang menganggap Rama sekadar raja yang gagah berani dan baik pekertinya, ada yang menganggap ia sebagai awatara (titisan) Dewa Wisnu; bah- kan ada yang menganggap Rama sebagai Dewa Tertinggi yang menguasai alam semesta dan abadi.

Di luar India, selain di Indonesia, terdapat pula berbagai versi cerita Rama, seperti Rama Jataka di Laos, Riemkerr di Kam- boja, bermacam cerita Ramakien di Thailand, beberapa versi Rama di Vietnam dan Myanmar, Hikayat Sri Rama di Malaysia, serta Anamaka Jataka dan Dasaratha Jataka di Cina dan Tibet. Berbeda dengan versi Asia Tenggara, versi Ramayana di Cina dan Tibet telah berbaur menjadi satu dengan ajaran Buddha. Kedua cerita Rama di Cina tertuang dalam Budhis Mahavibhara. Di buku itu Rama dianggap sebagai Bodhisattva yang telah men- capai paramitas (kesempurnaan) dan musuh Rama bukanlah Rahwana, melainkan pamannya sendiri yang berusaha merebut takhta. Sinta juga tidak diculik oleh Rahwana, melainkan oleh seekor naga yang menjelma menjadi resi atau pendeta.

Versi Ramayana yang amat menyimpang, bahkan bertolak belakang dengan versi Ramayana India, adalah versi Ramayana dari Sailan (Sri Lanka). Tokoh Rahwana yang biasanya digambarkan sebagai raja yang lalim, angkara murka, dan sebagainya, justru berbudi luhur dan agung. Ia dipuja sebagai raja patriotik yang berani menentang ekspansi Hindu (Rama) ke Sailan. Pada masa pemerintahan Rahwana, Langkapura mengalami zaman keemasan. Ia dikenang sebagai raja yang arif bijaksana dan wibawanya sampai ke daratan India selatan. Ia juga dikenang sebagai cendekiawan yang berwawasan luas, penulis buku ilmu pengetahuan, penyair, serta pemusik. Di Sailan kisah Ramayana tidak berpusat pada permasalahan erotis, tapi lebih berlatar belakang pada segi politis-religius. Rahwana, yang memerintah Langkapura tahun 2554-2517 SM, ialah raja yang progresif, berani menentang ritual pengorbanan hewan, bahkan manusia, yang terdapat dalam upacara Hindu.

Rama sebaliknya adalah raja yang konservatif, mati-matian membela tradisi lama ritual keagamaan Hindu, bahkan terkadang kejam. Secara politis, Rama digambarkan cemburu terhadap popularitas Rahwana dan khawatir Rahwana akan mengancam kedaulatan kerajaannya di India. Lesmana diceritakan menikah dan bahagia bersama Sarpokenoko, adik Rahwana, tapi ditentang oleh rakyat India yang dihasut Rama. Rahwana yang prihatin akan nasib adiknya lalu datang ke Ayodya untuk menjemputnya. Pada kesempatan itulah Rahwana bertemu dengan Sinta yang sedang kesepian ditinggalkan Rama berburu. Ringkas cerita, Sinta jatuh cinta kepada Rahwana dan mengikuti Rahwana pulang ke Langkapura. Akibatnya bisa ditebak, Rama marah dan cemburu lalu mengumumkan perang melawan Langkapura. Dalam perang itu Ramaberhasil menjalinhubungan dengan Wibisana, adik Rahwana yang berkhianat dan berambisi merebut takhta kakaknya. Rahwana akhirnya tewas, bukan di tangan Rama, melainkan di tangan Wibisana yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Langkapura.

2.4.6 Alternatif Cerita Ramayana di Indonesia

Di Indonesia, selain Ramayana Kakawin dan Hikayat Sri Rama, terdapat pula Serat Rama, Uttara Rama, Uttara Kanda Jawa, Cerita Rama, Serat Kanda, Rama Keling, dan berbagai lakon wayang purwa yang terhimpun dalam Serat Padalangan Ringgit Purwa. Hikayat Sri Rama sendiri juga masih terbagi dalam beberapa versi, yaitu versi PP Roarda van Eysinga yang terbit tahun 1843, versi WE Maxwell yang terbit tahun 1886, dan versi WG Shellabean, terbit tahun 1917.

Dengan adanya berbagai versi dan penyimpangan cerita Rama dari Ramayana Walmiki yang dianggap sebagai versi orisinal, sejak 100 tahun lalu, di Indonesia, berbagai sarjana mencoba mengungkap sebab-sebab terjadinya penyimpangan tersebut. Semula orang berpendapat bahwa berbagai cerita Ramayana di Indonesia adalah hasil perombakan dan atau perusakan yang di- lakukan para pengarang karena mereka tak menguasai bahasa Sansekerta. Pendapat demikian kemudian ditinggalkan oleh para ahli.

WH Ressers, dalam disertasinya "De Pandji Roman" (1922), berpendapat bahwa berbagai cerita Ramayana di Indonesia bersumber pada Ramayana Walmiki, tapi para pengarang Indonesia sengaja membuat perbedaan agar cerita Rama sesuai struktur cerita Panji, dengan demikian cocok dengan alam pikiran dan tata nilai bangsa Indonesia. Cerita Panji terjadi pada pertengahan zaman Majapahit. Salah satu cerita Panji yang terkenal adalah cerita Panji-Anggraeni. Ceritanya mengisahkan Raden Panji Wanengpati, putra Raja Jenggala yang ditunangkan de- ngan Dewi Sekartaji, putri Raja Kediri. Masalah timbul karena Raden Panji jatuh cinta kepada Dewi Anggraeni, putri Patih Jenggala. Mengetahui hal itu, Raja Jenggala memerintahkan agar Anggraeni dibunuh. Keindahan cerita Panji memunculkan berbagai versi cerita di Bali, Melayu, bahkan sampai ke Siam dan Kamboja.

WF Stutterheim menganalisa berbagai cerita Rama dengan panjang lebar dalam disertasinya "Rama Legenden und Rama Reliefs in Indonesia" (1925). Ia menolak pokok pendapat Ressers. Stutterheim membuktikan bahwa sumber semua penyimpangan harus dicari terutama dalam cerita-cerita Rama yang terdapat di India selatan; bukti-bukti yang dikemukakannya cukup meyakinkan. Dia juga menegaskan bahwa kisah Rama dan Rahwana dalam sastra Jawa dan Melayu mempunyai hubungan organis yang erat dan lebih luas dibandingkan cerita dewa dan raja dalam berbagai versi cerita Rama di India. Perbandingan sepintas saja sudah dapat mengungkapkan hubungan berbagai versi cerita Rama di Indonesia dengan berbagai versi cerita di India selatan. Teori Stutterheim mirip dengan teori Poerbatjaraka dalam mengaitkan Ramayana Kakawin dengan versi Bhattikavya.

Dra. Edi Sedyawati, dalam kata pengantar Ramadewa karya Herman Pratikto, mencoba mengaitkan penyimpangan cerita Rama dengan tradisi sanggit dalam kebudayaan tradisional Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali. Sanggit adalah penyusunan suatu cerita yang telah dikenal secara khas, yang dilakukan oleh seorang seniman atas dasar pandangan hidup, pendirian, selera, maupun tujuan-tujuan tertentu yang mungkin dimiliki seniman tersebut dalam menampilkan suatu cerita. Kepribadian sang seniman menentukan watak karya-karyanya; ada yang suka menekankan pada unsur dramatis, ada yang suka pada unsur kelembutan yang menyentuh perasaan, ada yang cenderung pada pendalaman nilai-nilai hidup yang menyangkut kebenaran, hakikat ketuhanan, cara hidup yang tepat, dan sebagainya.

Akibatnya dalam dunia wayang purwa lahirlah berbagai cerita carangan atau lakon cabang kreasi para dalang dari generasi ke generasi. Lakon carangan adalah lakon yang ditambahkan pada lakon-lakon pokok. Lakon ini terutama terdapat dalam Mahabharata, namun di Ramayana juga ada. Dari 149 lakon wayang yang dicatat oleh J Kats, 117 di antaranya adalah lakon carangan. Kebanyakan lakon carangan mengisahkan peristiwa ketika Pandawa berkuasa di Amarta, suatu periode yang jauh lebih pendek daripada periode sebelumnya.

Contoh cerita yang menyimpang dari induk cerita Ramayana di karya sastra dan pewayangan di Jawa adalah Rama Nitik dan Rama Nitis. Tokoh-tokoh Ramayana, yang tentu lebih tua, dipertemukan dengan tokoh-tokoh Mahabharata. Dikisahkan Rama, sebagai awatara Wisnu, pada akhirnya menitis pada Kresna, sedang Lesmana menitis pada Arjuna. Hanuman sebagai tokoh populer dalam Ramayana juga ditampilkan kembali. Hanuman yang sudah berusia lanjut tapi masih sakti itu kadang-kadang dipanggil Kresna jika negeri Dwarawati dan keluarga Pandawa menghadapi kesulitan yang tak teratasi.

Di antara cerita Rama versi Jawa, yang paling populer di kalangan rakyat adalah Serat Rama karya Jasadipura I (1729- 1802). Jasadipura I dan Jasadipura II ialah ayah dan anak, dua pujangga istana Surakarta yang dianggap sebagai pelopor pembangunan kepustakaan Jawa pada zaman Surakarta awal (abad XVIII-XIX). Serat Rama digubah ke dalam bentuk macapat, yaitu syair yang dilagukan (tembang). Poerbatjaraka menyebut kitab Rama Jarwa (terjemahan Serat Rama) sebagai kitab Jawa terbaik masa sekarang. Pujangganya juga pandai menyusun kalimat berkidung sehingga sedap dibaca. Namun demikian Poerbatjaraka secara kritis menilai kelemahan sang pujangga yang dianggap kurang menguasai bahasa Jawa Kuno sehingga sering meraba-raba, bagian yang tak dipahami dihilangkan dan diganti bagian yang dianggap patut yang tidak merusak jalan cerita. Ada kalanya bagian yang tak dipahami itu diringkas sehingga keliru mengartikan.

Berbeda dengan Ramayana Kakawin, Serat Rama diawali adegan istana dan asal-usul keluarga Rahwana, sedang cerita Ramayana dimulai dari bait ke-13 bagian I. Kisah Rahwana tersebut adalah kutipan dari Kitab Arjuna Wijaya (Arjuna Sasrabahu) karya Empu Tantular dari masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit (abad ke-14). Akhir Serat Rama sama dengan Ramayana Kakawin, yaitu kisah pensucian Sinta lewat api unggun.

Sendratari Ramayana Prambanan (STRP) menggunakan Serat Rama sebagai sumber cerita. Serat Rama yang bersumber kepada Ramayana Kakawin, dan Ramayana Kakawin yang bersumber kepada Ravanavadha, berbeda dengan kisah Rama di relief Candi Prambanan. Karena itu sering turis mempertanyakan mengapa kisah Rama dalam Sendratari tersebut berbeda dengan kisah Ramayana dalam relief Candi Prambanan, terutama di bagian akhir kisah. Sumber Ramayana relief Prambanan memang belum bisa secara pasti ditelusuri asal-usulnya, namun versinya mirip Hikayat Sri Rama.

Prof. Dr Poerbatjaraka pada masa revolusi fisik (1945-49) telah berhasil menerjemahkan naskah Ramayana Kakawin ke bahasa Indonsia pada 1950. Usaha tersebut sebenarnya telah selesai, tapi amat disayangkan sampai beliau wafat tahun 1964 naskah berharga itu tak kunjung berhasil diterbitkan.

vSatu disertasi berbahasa Indonsia tentang Ramayana tulisan Achdiati Ikram diterbitkan oleh Universitas Indonsia, Jakarta, pada 1980 dengan judul Hikayat Sri Rama. Achdiati yang mendalami sastra Melayu Lama pada Universitas Leiden, mempelajari secara intensif naskah Hikayat Sri Rama dari struktur dan amanat yang terkandung dalam naskah tersebut.

2.5 Data Hasil Survey

Penulis juga melakukan survey ke berbagai tempat untuk memperkuat data dalam pengenalan tokoh Ramayana. Tempat yang penulis kunjungi adalah Museum Wayang Jakarta dan pertunjukkan Sendratari Ramayana di Purawisata Yogyakarta, yang diselenggarakan setiap hari.



2.5.1 Museum Wayang Jakarta

Museum wayang memiliki berbagai jenis wayang dalam negri maupun mancanegara. Dalam museum wayang terdapat wayang yang menvisualisasikan tokoh dalam Ramayana. Setiap daerah mempunyai cirri khas wayang tersendiri, dan membuat adanya diferensiasi tokoh Ramayana. Berikut contoh wayang-wayang tersebut.



::::screen shot 2012-08-09 at 1.23.46 pm.png

Gambar 2.1 Wayang Purwa Surakarta Rama dan Rahwana::::screen shot 2012-08-09 at 1.21.27 pm.png

Gambar 2.2 (kiri) Wayang Kulit Kamboja Sita dan Ganesha,

(kanan) Wayang Kulit Malaysia Hanoman



2.5.2 Sendratari Ramayana Purawisata

Penulis menonton pergelaran sendratari Ramayana di Purawisata Yogyakarta untuk memberikan refernsi visual berupa kostum yang dipakai dan suasana budaya dari tempat tersebut. Berikut adalah dokumentasi dari sendratari tersebut.



::::screen shot 2012-08-09 at 1.26.25 pm.png

Gambar 2.3 Adegan Rama, Sita dan Lesmana di hutan Dandaka


2.6 Data Khalayak Sasaran

2.6.1 Targer Primer

Demografi

  • Pria & wanita

  • Umur 18-25 tahun

  • Status sosial pelajar, mahasiswa, sudah kerja

Psikografi

  • Hobi membaca, menonton tv/bioskop, jalan-jalan

  • Sikapnya bersosialisasi, suka membagi wawasan, tertarik dengan kebudayaan lokal

  • Minat ingin lebih mengetahui perkembangan kebudayaan lokal di jaman sekarang

Geografi

  • Berdomisili di perkotaan, Jakarta

  • Kelas A & B



2.6.2 Target Sekunder

Target sekunder dalam buku ilustrasi pengenalan tokoh dalam kisah Ramayana ini adalah Art Student ( pelajar/mahasiswa yang bersekolah/kuliah di sekolah/institut seni ) usia 18 hingga 25 tahun dengan kelas sosial A dan B, baik pria dan wanita, menyukai ilustrasi dan budaya lokal.


2.7 Data Penerbit

Kompas Gramedia, disingkat KG, adalah perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang media massa yang didirikan pada tanggal 28 Juni 1965 Oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Pada tahun 1980-an perusahaan ini mulai berkembang pesat, terutama dalam bidang komunikasi. Saat ini, KG memiliki beberapa anak perusahaan/bisnis unit yang bervariatif dari media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV hingga universitas. Pada tahun 2005, perusahaan ini mempekerjakan sekitar 12.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.


:::downloads:gramedia_pustaka_utama.gif
Gambar 2.4 Logo Gramedia Pustaka Utama
Gramedia Pustaka Utama adalah anak perusahaan dari Kelompok Kompas Gramedia yang bergerak di bidang penerbitan buku yang mulai menerbitkan buku sejak tahun 1974. Buku fiksi pertama yang diterbitkan penerbit ini adalah novel Karmila, karya Marga T, yang disusul dengan buku seri anak-anak seperti Cerita dari Lima Benua, Album Cerita Ternama, dll. Terbitan buku non-fiksi pertama Gramedia adalah Hanya Satu Bumi karya Barbara Ward dan René Dubois dengan bekerjasama dengan Yayasan Obor.

Gramedia Pustaka Utama selalu menerbitkan buku-buku bermutu baik terjemahan maupun karya asli dalam negeri, diantaranya untuk jenis fiksi adalah Harry Potter karya JK. Rowling, novel2 karya Sidney Sheldon, Agatha Christie, Marry Higgins Clark, Sandara Brown, novel2 Mira W, Maria A. Sardjono, Hilman, dan masih banyak lagi. Untuk nonfiksi ada karya2 Robert Kiyosaki, Stephen Covey, Vincent Gasperz, Tung Desem Waringin, Rhenald Kasali, Adi Gunawan, dan lain-lain.




2.8 Analisa Kasus

2.8.1 Faktor Pendukung

Faktor pendukung dalam buku ilustrasi mengambil tema kisah atau legenda nusantara yang dikemas dalam ilustrasi yang digarap menggunakan pendekatan ilustrasi yang bergaya kontemporer. Dimana style ilustrasi yang dipakai sesuai dengan jiwa anak muda sekarang.



2.8.2 Faktor Penghambat

Faktor penghambat buku ilustrasi ini adalah prasangka masyarakat yang menganggap tema yang diambil sudah terlalu kuno ( basi ), karena sudah banyak versi yang telah di terbitkan sebelumnya. Selain akan adanya pihak kontra yang bertanggapan bahwa budaya tradisional tidak boleh dicampur tangankan dengan hal yang berbau modern karena dapat merusak nilai etnik dan sakral di dalamnya.


2.9 S.W.O.T

2.9.1 Strenght ( Kekuatan )

  • Kisah Ramayana sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di Pulau Jawa dan Bali.

  • Ilustrasi di Indonesia sudah berkembang cukup lama.

2.9.2 Weakness ( Kelemahan )

  • Penggambaran atau visualisasi tokoh Ramayana dalam wayang masih serupa dengan satu sama lain, membuat masyarakat yang awam akan dunia pewayangan kesulitan membedakan tokoh-tokohnya.

  • Perkembangan jaman membuat kisah pewayangan semakin menurun popularitasnya.

2.9.3 Oppurtunity ( Kesempatan )

  • Peminat buku ilustrasi masih banyak peminatnya.

  • Masih banyak masyarakat yang ingin melestarikan kebudayaan lokal yang diajaman yang sudah memasuki era westernisasi.

2.9.4 Thread ( Ancaman )

  • Segmen pembaca atau pembeli kemungkinan akan terbatas, dikarenakan harga buku relatif mahal bila dibandingkan buku pengenalan tokoh wayang dan sejenisnya.

  • Adanya pihak yang menentang kalau penggambaran tokoh wayang yang dikemas modern akan mengurangi nilai etniknya.

3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə