Reporter dapat melakukan




Yüklə 8.66 Kb.
tarix20.04.2016
ölçüsü8.66 Kb.
Stand-Up

Ketika melakukan pengumpulan bahan berita, seorang reporter juga harus memikirkan perlukah melakukan stand-up yakni langsung merekam laporan menggunakan kamera di lapangan. Sebagai reporter, Anda langsung menghadapkan wajah ke kamera dan juru kamera merekamnya.

Stand-up penting dilakukan untuk berita-berita besar dan menarik. Langkah ini dapat mengangkat kredibilitas seorang reporter maupun stasiun pemberitaan TV bersangkutan. Masih ingatkah Anda dengan almarhum Sory Ersa Siregar, reporter RCTI yang kerap melakukan stand up dari medan perang di Nanggroe Aceh Darussalam dan sarang Gerakan Aceh Merdeka. Siapa pun akan berdecak kagum dengan keberanian almarhum yang akhirnya tewas dalam kontak tembak antara TNI dengan GAM di Pidie, Aceh tahun 2003. Tentu masih banyak contoh berita lain yang pernah Anda saksikan di mana seorang reporter melakukan stand-up. Stand-up juga biasanya dilakukan apabila reporter tengah meliput di luar negeri. Ini tentu akan memberikan kebanggaan tersendiri bagi reporter maupun stasiun TV yang mengirimkannya. Penonton pasti akan memberi apresiasi tersendiri terhadap penampilan tersebut karena sesuatu yang asing menarik untuk diperhatikan.

Reporter dapat melakukan stand-up di awal atau akhir berita. Bisa juga dua kali, di awal dan di akhir berita. Pada akhir berita, reporter mengakhirinya dengan menyebut nama, stasiun pemberitaan dan lokasi tempat melaporkan berita. Misalnya, Fauzan Haromain, TPI Jakarta melaporkan.

Hasil stand-up tidak boleh cacat. Kalau pada saat merekam stand-up ada yang kurang sempurna harus diulangi hingga sempurna. Oleh karena itu, sebelum melakukan stand-up, reporter harus membuat catatan apa yang akan dikemukakan dan berusaha memahaminya. Pada saat stand-up, reporter jangan terlalu terpaku dengan kalimat-kalimat yang disusun dalam catatan, tetapi upayakan berimprovisasi supaya tidak kaku. Gunakan catatan hanya sebagai landasan berpijak untuk stand-up. Laporan stand-up nantinya akan diolah kembali di mesin editing oleh editor gambar dalam bentuk berita paket (Package).
Perlukah Siaran Langsung (Live)?

Ketika mengumpulkan bahan berita di lapangan, seorang reporter juga harus dapat memutuskan, perlukah dilakukan siaran langsung (live)? Keputusan ini tentu sangat tergantung pada magnitude berita yang tengah dikumpulkannya. Kalau beritanya sangat besar, reporter harus segera melaporkannya ke redaksi. Redaksi tentu akan mempertimbangkan laporan Anda sehingga mereka segera mengambil keputusan dan mengatur segala keperluan siaran langsung, seperti menyiapkan Sattelite News Gathering (SNG). SNG adalah peralatan yang digunakan stasiun TV untuk melakukan siaran langsung dari berbagai lokasi di luar studio. Peralatan ini bisa dibawa kemana saja karena sudah dirancang sedemikian rupa.

Keunggulan stasiun berita televisi juga sangat ditentukan dengan keberhasilan mereka siaran langsung. Anda tentu masih ingat ketika ANTV siaran langsung dalam penggerebekan Doktor Azahari yang disebut-sebut sebagai gembong teroris akhir Desember 2005. Pada kesempatan pertama stasiun TV lain pada saat itu hanya melakukan siaran langsung melalui telepon (live by phone) karena "kecolongan" dengan peristiwa besar ini. Stasiun TV lain baru melakukan siaran langsung pada kesempatan kedua. Beredar kabar di kalangan pers, reporter ANTV, Karny Ilyas, yang juga menjabat sebagai Direktur Pemberitaan sudah berada sepekan di Batu Malang, Jawa Timur, sebelum penggerebekan. Bagaimanapun cara yang dilakukan Karny Ilyas untuk melobi pejabat kepolisian agar mereka yang pertama melaporkan peristiwa ini secara langsung, keputusannya sangat tepat untuk siaran langsung ANTV unggul dalam peristiwa besar ini. Buah kerja Karny Ilyas yang saat itu baru saja pindah dari stasiun pemberitaan SCTV ke ANTV mendapat decak kagum dan kejengkelan dari stasiun TV lain karena kalah dalam moment tersebut. Ketika memburu teroris yang diduga tempat persembunyian Noordin M. Top di Temanggung, Jawa Tengah, Karny Ilyas kembali melakukan gebrakan di TV One. Mereka live lebih dari 8 jam ketika tim Densus 88 melakukan penggerebekan. Sebagian besar mata penontotn TV tertuju pada stasiun berita tv baru itu.

Kesimpulan

Kemampuan seorang reporter untuk menggali informasi dari sebuah fakta peristiwa atau fakta pendapat sangat tergantung pada kepekaannya membaca situasi dan kelihaiannya melakukan wawancara terhadap nara sumber: pelaku, saksi, korban, pakar, pejabat dan orang yang berkompeten lainnya. Karena itu, seorang reporter di lapangan harus senantiasa penuh dengan pertanyaan selidik. Ia tidak boleh lekas percaya terhadap apa yang sudah diperolehnya. Semua informasi yang diperoleh harus senantiasa dikonfirmasi ke berbagai pihak untuk memastikan kebenarannya. Kepekaan reporter membaca situasi dan kelihaiannya melakukan wawancara biasanya akan terasah dengan sendirinya sesuai pengalaman.



Faktor lain yang turut menentukan keberhasilan pengumpulan bahan berita adalah pengetahuan reporter dengan masalah yang akan digalinya. Bagaimana mungkin seorang reporter dapat menggali informasi secara detail mengenai demam berdarah, misalnya, sementara ia sendiri tidak mengetahui seluk-beluk penyakit tersebut. Kerena itu, reporter sebelum turun ke lapangan harus memahami dan mendalami dulu masalah yang akan digalinya. Caranya dengan membaca buku referensi atau bertanya pada ahlinya.


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə