Lampiran XII peraturan Presiden Tentang rtr pulau Sumatera Strategi Pengembangan Kawasan Lindung Nasional di Pulau Sumatera




Yüklə 0.6 Mb.
səhifə1/6
tarix30.04.2016
ölçüsü0.6 Mb.
  1   2   3   4   5   6
Lampiran XII

Peraturan Presiden Tentang RTR Pulau Sumatera

Strategi Pengembangan Kawasan Lindung Nasional di Pulau Sumatera


No

Kawasan Lindung Nasional

Strategi Pengembangan

1

Suaka Margasatwa Rawa Singkil (Nanggroe Aceh

Darussalam)

(102.500 ha)


  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi alami rawa gambut;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Menjaga habitat flora dan fauna yang termasuk dalam daftar yang dilindungi secara internasional: orang utan, Harimau Sumatera

  • Melarang penangkapan ikan secara eksesif yang menggunakan alat tangkap yang dapat mengancam kelestarian ekosistem (pukat harimau, bom, dll)

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa Harimau Sumatera

  • Mempertahankan luasan dan penataan batas kawasan

  • Menertibkan HGU yang berada di dalam kawasan

2

Suaka Margasatwa Karang Gading dan

Langkat Timur Laut (Sumatera Utara)

(15.765 ha)


  • Memelihara habitat bagi spesies orang utan;

  • Merestorasi bagian-bagian kawasan yang mengalami kerusakan;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan

  • Pengenaan retribusi yang tinggi terhadap kegiatan yang berlokasi di dalam kawasan lindung maupun yang memanfaatkan sumber daya dari kawasan lindung,

  • Pengembangan industri kilang arang, budidaya tambak udang sebagai penyerap lapangan kerja bagi penduduk lokal,

  • Pengembangan budidaya mangrove sebagai bahan baku industri kilang arang,

  • Penanaman kembali mangrove

  • Mengembangkan kawasan sebagai objek wisata pengamatan burung

  • Membuat paket-paket perjalanan wisata

  • Pembangunan fasilitas (penginapan, bank, dsb) serta infrastruktur pendukung (jalan, telekomunikasi, dsb),

3

Suaka Margasatwa Barumun (Sumatera Utara)

(40.330 ha)



  • Memelihara habitat bagi spesies harimau dan gajah;

  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan/fasilitas penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba atau kawasan penyangga;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam terbatas pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan

  • Terdapat permukiman/penduduk dan perkebunan (karet dan kelapa sawit)

  • Melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan kegiatan ekowisata;

4

Suaka Margasatwa Siranggas (Sumatera Utara) (5.657 ha)

  • Memelihara habitat bagi spesies orang utan dan harimau;

  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem;

5

Suaka Margasatwa Dolok Surungan (Sumatera Utara)

(23.800 ha)



  • Memelihara habitat bagi spesies harimau dan orang utan;

  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal berbasis pariwisata, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, restoran, industri kerajinan tangan/souvenir, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Menciptakan mekanisme kontrol melalui kerjasama antar instansi dalam hal perizinan pemanfaatan ruang, baik di dalam kawasan maupun pada zona penyangga,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan,

  • Melakukan reboisasi secara bertahap,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa

6

Suaka Margasatwa Pagai Selatan (Sumatera Barat) (4.000 ha)

  • Memelihara habitat bagi spesies harimau dan orang utan;

  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem;

7

Suaka Margasatwa Kerumutan (Riau) (120.000 ha)

  • Memelihara habitat bagi spesies harimau;

  • Mempertahankan luasan tutupan dan jenis vegetasi;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Mengendalikan perkembangan permukiman penduduk lokal (enclave);

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam pada zona-zona pemanfaatan

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Pengenaan pajak yang tinggi terhadap aktivitas yang berlokasi di kawasan suaka margasatwa yang bertujuan untuk menciptakan disinsentif bagi aktivitas-aktivitas tersebut,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan

  • Membatasi perkembangan kegiatan budidaya berskala besar pada areal penyangga kawasan,

8

Suaka Margasatwa Danau Pulau

Besar/Danau Pulau Bawah (Riau)

(28.237,95 ha)


  • Perlindungan spesies gajah, orang utan dan harimau;

  • Mereboisasi secara bertahap seluruh kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merestorasi kawasan yang rusak sesuai dengan ekosistem aslinya;

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Memberikan kompensasi fiskal bagi pemeritah daerah untuk pemeliharaan kawasan lindung;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HTI, PBS);

  • Merelokasi dengan segera kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HPH, HTI, PBS) yang berlokasi pada lahan yang berkemiringan >= 40%;

  • Melarang pemanfaatan ruang dalam kawasan bagi kegiatan-kegiatan selain lindung;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Pengenaan pajak yang tinggi terhadap aktivitas perkebunan yang saat ini mulai merambah kawasan penyangga,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan

  • Membatasi perkembangan kegiatan budidaya, terutama yang berskala besar, pada areal penyangga kawasan,

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa di kawasan ini.

9

Suaka Margasatwa Bukit Rimbang-Bukit

Baling (Riau) (136.000 ha)



  • Mereboisasi secara bertahap seluruh kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merestorasi kawasan yang rusak sesuai dengan ekosistem aslinya;

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Memberikan kompensasi fiskal bagi pemeritah daerah untuk pemeliharaan kawasan lindung;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HTI, PBS);

  • Merelokasi dengan segera kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HPH, HTI, PBS) yang berlokasi pada lahan yang berkemiringan >= 40%;

  • Melarang pemanfaatan ruang dalam kawasan bagi kegiatan-kegiatan selain lindung;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem.

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Pengenaan pajak yang tinggi terhadap aktivitas perkebunan yang saat ini mulai merambah kawasan penyangga,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa di kawasan ini

10

Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (Riau) (50.000 ha)

  • Memelihara habitat bagi spesies gajah, orang utan dan harimau;

  • Mereboisasi secara bertahap seluruh kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Memberikan kompensasi fiskal bagi pemeritah daerah untuk pemeliharaan kawasan lindung;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Merestorasi kawasan yang rusak sesuai dengan ekosistem aslinya;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HTI, PBS);

  • Merelokasi dengan segera kegiatan-kegiatan budi daya komersial (HPH, HTI, PBS) yang berlokasi pada lahan yang berkemiringan >= 40%;

  • Melarang pemanfaatan ruang dalam kawasan bagi kegiatan-kegiatan selain lindung;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

11

Suaka Margasatwa Balai Raja (Riau) (18.000 ha)

  • Perlindungan spesies harimau sumatera (Panthera Tigris), gajah

  • Mereboisasi secara bertahap seluruh kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya perkebunan sawit dan permukiman;

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Melarang pemanfaatan ruang bagi kegiatan-kegiatan selain lindung, penelitian, dan wisata alam terbatas;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal berbasis pariwisata, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, restoran, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan,

  • Melakukan reboisasi secara bertahap,

  • Menciptakan mekanisme kontrol melalui kerjasama antar instansi dalam hal perizinan pemanfaatan ruang, baik di dalam kawasan maupun pada zona penyangga,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa Harimau Sumatera, Gajah, dll

12

Suaka Margasatwa Tasik Besar/Tasik Metas (Riau)

(3.200 ha)



  • Mereboisasi secara bertahap kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya komersial (????) dan permukiman (???);

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Mengizinkan pemanfaatan sumber daya hutan nonkayu bagi masyarakat lokal;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Melarang pemanfaatan ruang bagi kegiatan-kegiatan selain lindung, penelitian, dan wisata alam terbatas;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal berbasis pariwisata, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, restoran, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Menciptakan mekanisme kontrol melalui kerjasama antar instansi dalam hal perizinan pemanfaatan ruang, baik di dalam kawasan maupun pada zona penyangga,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan,

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa

13

Suaka Margasatwa Tasik Serkap/Tasik

Sarang Burung (Riau) (6.900 ha)



  • Mereboisasi secara bertahap kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merelokasi secara bertahap kegiatan-kegiatan budi daya komersial (????) dan permukiman (???);

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Mengizinkan pemanfaatan sumber daya hutan nonkayu bagi masyarakat lokal;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial yang berlokasi di dalam kawasan;

  • Melarang pemanfaatan ruang bagi kegiatan-kegiatan selain lindung, penelitian, dan wisata alam terbatas;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan pada blok rimba sebagai lokasi kegiatan wisata alam;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal berbasis pariwisata, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, restoran, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan,

  • Menciptakan mekanisme kontrol melalui kerjasama antar instansi dalam hal perizinan pemanfaatan ruang, baik di dalam kawasan maupun pada zona penyangga,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa

14

Suaka Margasatwa Pusat Pelatihan Gajah (Riau)

  • Memelihara habitat gajah

  • Mereboisasi secara bertahap seluruh kawasan yang rusak dengan vegetasi alaminya;

  • Merestorasi kawasan yang rusak sesuai dengan ekosistem aslinya;

  • Memberikan insentif bagi pemerintah daerah untuk memulihkan fungsi kawasan;

  • Memberikan kompensasi fiskal bagi pemeritah daerah untuk pemeliharaan kawasan lindung;

  • Memberikan insentif-disinsentif bagi kegiatan budi daya komersial untuk merelokasi kegiatannya ke luar kawasan lindung;

  • Melarang pemanfaatan ruang dalam kawasan bagi kegiatan-kegiatan selain lindung;

  • Mengembangkan kawasan penyangga disekitar kawasan;

  • Mengembangkan sub-sub kawasan sebagai lokasi wisata alam pada blok rimba;

  • Mengembangkan kegiatan-kegiatan penunjang kegiatan wisata alam pada blok rimba;

  • Melarang pemanfaatan blok inti bagi kegiatan selain penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

  • Memanfaatkan potensi kehutanan nonkayu tanpa mengganggu kelestarian ekosistem.

  • Pengembangan kegiatan wisata alam terbatas pada zona-zona pemanfaatan,

  • Mendorong berkembangnya ekonomi lokal berbasis pariwisata, misalnya dengan mendesain permukiman masyarakat untuk digunakan sebagai fasilitas penginapan turis, restoran, dll

  • Memberikan pelatihan untuk meningkatkan skill masyarakat sesuai dengan kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan (misalnya melalui Balai Latihan Kerja)

  • Merancang mekanisme disinsentif bagi kegiatan perkebunan sawit dan permukiman yang saat ini sudah merambah masuk ke dalam kawasan, yaitu dengan mengenakan pajak yang tinggi, mengurangi kuantitas infrastruktur yang telah ada saat ini,

  • Melarang kegiatan perburuan satwa di dalam kawasan,

  • Menciptakan mekanisme kontrol melalui kerjasama antar instansi dalam hal perizinan pemanfaatan ruang, baik di dalam kawasan maupun pada zona penyangga,

  • Membuat koridor-koridor habitat bagi satwa-satwa
  1   2   3   4   5   6


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə