I. Tinjauan Umum 1 Kondisi Kesenian di Jakarta




Yüklə 258.57 Kb.
səhifə1/4
tarix27.04.2016
ölçüsü258.57 Kb.
  1   2   3   4


BAB II

LANDASAN TEORI





I. Tinjauan Umum

2.1 Kondisi Kesenian di Jakarta

Jakarta sebagai ibukota negara, dengan kondisi masyarakat yang beraneka ragam mempunyai banyak seniman-seniman muda yang berbakat dan mereka sebagian besar ditunjang oleh latar belakang pendidikan yang cukup tinggi dalam bidangnya. Pendidikan kesenian tersebut diperoleh lewat yayasan-yayasan musik, pendidikan tari, sampai akhirnya terbentuk Dewan Kesenian Jakarta.

Dengan adanya fasilitas-fasilitas kesenian tersebut maka Jakarta kini sudah menjadi Pusat Kesenian Nasional. Dengan merancang program yang teratur maka prestasi kesenian serta tingkat apresiasi masyarakat terhadap nilai seni tari akan dapat meningkatkan pendapatan devisa negara secara bertahap.

Meningkatnya arus wisatawan baik domestik maupun luar negri, juga adanya program pemerintah di bidang kebudayaan, dapat disajikan modal untuk meningkatkan kegiatan kesenian di Indonesia. Disamping untuk memperkenalkan hasil budaya bangsa kepada wisatawan, kegiatan tersebut juga akan meningkatkan mutu kesenian tari dan para senimannya di Jakarta.



2.2 Sarana Kesenian Yang Ada di Jakarta

Sarana kesenian yang ada berfungsi sebagai wadah bagi kegiatan-kegiatan kesenian seniman dan budayawan guna memelihara dan mengembangkan berbagai kesenian baik seni tradisional, modern, maupun kontemporer.



  1. Taman Ismail Marzuki

Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan. Di sini terletak Institut Kesenian JakartaPlanetarium Jakarta, dan Gedung Teater Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop. Taman Ismail Marzuki mempunyai beberapa wadah untuk seni pertunjukan yaitu :

  1. Teater Besar (Grand Teater)

Ruang pertunjukan yang berada di dalam Gedung Teater Jakarta ini mempunyai kapasitas 1200 penonton. Dilengkapi dengan mesin hidrolik untuk efek pertunjukan. Efek visual dan sound yang modern melengkapi ruang teater besar. Selain itu, di belakang panggung dilengkapi dengan 10 ruang ganti artis dengan toilet, wardrobe, dan make up station.

  1. Graha Bhakti Budaya

Graha Bhakti Budaya (GBB) adalah Gedung Pertunjukan yang besar, mempunyai kapasitas 800 kursi, 600 kursi berada di bawah dan 200 kursi di balkon. Panggung GBB berukuran 15x10x6m. Gedung ini dapat dipergunakan untuk gedung pertunjukan konser musik, teater baik tradisional maupun modern, tari, film, dan dilengkapi dengan tata cahaya, sound sistem akustik, serta pendingin ruangan.

  1. Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III

Galeri Cipta II adalah ruang pameran yang lebih besar dari Galeri Cipta III. Kedua ruang tersebut dapat dipergunakan untuk pameran seni lukis, seni patung, diskusi dan seminar, dan pemutaran film pendek. Gedung ini dapat memuat sekitar 80 lukisan dan 20 patung serta dilengkapi dengan pendingin ruangan, tata cahaya khusus, tata suara serta panel yang dapat dipindah-pindahkan.

  1. Teater Kecil/Teater Studio

Merupakan ruang pertunjukan yang dipersiapkan untuk 200-300 orang. Berada di dalam Gedung Teater Jakarta satu bangunan dengan Teater Besar. Ruang pertunjukan ini mempunyai banyak fungsi seperti seni pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, seminar,dll. Teater Kecil mempunyai ukuran panggung 10x5x6m. Gedung ini juga dilengkapi sistem akustik, tata cahaya dan pendingin ruangan.

  1. Teater Halaman (Studio Pertunjukan Seni)

Dipersiapkan untuk pertunjukan seni eksperimen bagi seniman muda teater dan puisi, mempunyai kapasitas penonton yang fleksibel.

  1. Plaza dan Halaman

TIM mempunyai areal parkir yang cukup luas yang merupakan lahan serba guna dan dapat dipergunakan untuk berbagai pertunjukkan kesenian open air.

  1. Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta hanya mempunyai satu wadah yang dapat menampung seni pertunjukan yaitu ruang auditorium dengan kapasitas 440 penonton, yang dapat menampung segala jenis seni pertunjukan (multi purpose). Sebagai sebuah tempat pertunjukan seni, Gedung Kesenian Jakarta memiliki fasilitas yang bagus dan memadai, di antaranya ruang pertunjukan berukuran 24x17.5 meter, panggung berukuran 10,75x14x17 meter, peralatan tata cahaya, kamera (CCTV) di setiap ruangan, TV monitor, ruang foyer berukuran 5,80 x 24 meter, serta fasilitas outdoor berupa electric billboard untuk keperluan publikasinya.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Kesenian_Jakarta; internet accessed 8 Maret 2013)

  1. Teater Salihara

Teater Salihara adalah satu-satunya teater blackbox yang ada di Indonesia. Dengan kapasitas ruangan 200 penonton, akustik teater blackbox yang baik, menjadi membuatnya istimewa. Pengaturan kursi dan panggung lebih fleksibel. Dengan berbagai formasi, tetap dapat mencapai akustik yang maksimal. Empat sisi dindingnya berlapis bata yang di cat hitam. Dari bagian tengah ke bawah, bata ditumpuk biasa, mulai dari tengah ke atas, terlihat susunan bata yang berputar perlahan hingga mencapai sudut 90 derajat. Susunan bata inilah yang memaksimalkan akustik ruangan. (Majalah Idea,2012)

2.3 Pagelaran

Pagelaran adalah suatu kegiatan dalam rangka mempertunjukkan karya seni kepada orang lain (masyarakat umum) agar mendapat tanggapan dan penilaian. Pergelaran adalah bentuk komunikasi antara pencipta seni (apresian) dan penikmat seni (apresiator). Dalam arti bahwa, para seniman menciptakan karya seni bertujuan untuk mengaktualisasi seni yang diciptakan, sedangkan bagi penikmat seni dapat menjadi bahan apresiasi.

Kegiatan pagelaran merupakan suatu kegiatan dalam rangka membentuk pengalaman dari kreativitas, kemampuan musikal, tanggung jawab, pengenalan jati diri terutama dalam hal karya seni. Bentuk pagelaran dapat disajikan secara bermacam-macam. Penyajian pagelaran tunggal disebut solo, penyajian pagelaran secara berkelompok dapat disebut ensambel. Dalam ensambel itu sendiri dapat disesuaikan dari jumlah penyaji. Dua orang penyaji dalam pagelaran disebut duet, tiga orang penyaji disebut trio, empat orang penyaji disebut kwartet, lima orang penyaji disebut kwintet dan seterusnya, sedangkan penyaji yang tampil dalam jumlah besar bisa disebut group. Pagelaran dapat berhasil dengan baik apabila mendapat persiapan yang matang. Untuk dapat mencapai keberhasilan yang optimal maka diperlukan adanya suatu persiapan yang meliputi:


  1. Pembentukan panitia.

  2. Melakukan audisi untuk pementasan.

  3. Mengumpulkan crew dan pemain.

  4. Menentukan tema.

  5. Latihan intensif para pemain.

  6. Menyusun proposal untuk pendanaan.

  7. Penjadwalan pagelaran.

  8. Menyusun tempat, dekorasi, dan perlengkapan.

  9. Penampilan karya seni kelompok maupun individu.

(http://lirikindonesia-lirikku.blogspot.com/2010/06/pengertian-pagelaran-pagelaran-adalah.html; internet accessed 18 Februari 2013)

2.3.1 Definisi Pagelaran atau Teater

Teater adalah sesuatu yang relatif, suatu “permunculan”, suatu revolusi yang terus menerus. “Theater is the gathering together of a group of people to witness a planned performances. It is materially non-productive, its values being entirely spritual and cultural” Teater adalah pertemuan dari sekelompok orang untuk menyaksikan pertunjukan yang direncanakan. Ini adalah material non-produktif, nilai-nilainya seluruhnya untuk spritual dan budaya. (Burris Meyer, H& Cole E.C, Theater and Auditoriums, Reinhold, New York, 1957)



2.3.2 Fungsi dan Tujuan Pagelaran

Pagelaran mempunyai fungsi dan tujuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat yang langsung adalah sarana untuk berkreasi diri. Sedangkan manfaat tidak langsungnya adalah dapat untuk mengembangkan dan menambah kehalusan budi pekerti. Fungsi dan tujuan pagelaran secara umum adalah sebagai berikut:



  1. Fungsi Pagelaran

  1. Sebagai sarana pengembangan bakat.

  2. Sebagai media ekspresi.

  3. Sebagai media apresiasi.

  4. Sebagai media komunikasi.

  1. Tujuan Pagelaran

  1. Memberikan hiburan kepada masyarakat.

  2. Menumbuhkan motivasi untuk berkarya.

  3. Memperingati hari-hari besar

  4. Melestarikan budaya.

  5. Sebagai sarana apresiasi.

  6. Untuk kegiatan amal/sosial.

(http://lirikindonesia-lirikku.blogspot.com/2010/06/pengertian-pagelaran-pagelaran-adalah.html; internet accessed 18 Februari 2013)

2.3.3 Menyusun Pagelaran

Sebelum menyusun kegiatan pagelaran, terlebih dahulu adalah menentukan tema. Penentuan tema bisa didasarkan pada jenis peristiwa monumental. Karena tema adalah ide dasar pokok pagelaran, maka setidaknya sebelum mengadakan pagelaran, perlu adanya analisa latar belakang terjadinya peristiwa yang dapat diangkat menjadi tema dengan persyaratan seperti aktual, singkat dan jelas, dan waktunya terbatas.

Setelah tema terbentuk, kemudian menyusun proposal yang memiliki banyak fungsi seperti, sumber pencarian dana/sponsor, pemahaman program dan rencana pelaksanaan. Proposal itu sendiri memiliki arti sebagai rencana yang dituliskan dalam bentuk rancangan kerja.

Tempat pagelaran dapat dilakukan didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (out door). Kebutuhan tempat dapat disesuaikan dengan bentuk pagelaran. Jika memang tempat pagelaran direncanakan untuk menampung penonton yang banyak/ secara massal (bentuk konser), dapat dilakukan di luar ruangan. Sedangkan jika memang penonton dibatasi dengan tiket maupun dengan undangan (musik chamber / musik kamar), pagelaran dapat dilakukan didalam ruangan. (http://lirikindonesia-lirikku.blogspot.com/2010/06/pengertian-pagelaran-pagelaran-adalah.html; internet accessed 18 Februari 2013)



2.3.4 Gedung Pagelaran

Gedung pagelaran adalah suatu wadah penampungan dari suatu penyajian seni pertunjukan kepada sekelompok penonton yang behasrat untuk memenuhi kebutuhan jiwanya untuk menyaksikan suatu pertunjukan yang terencana dengan cara melihat dan mendengarkan. Mencakup unsur-unsur pokok yaitu materi yang dipagelarkan, mayarakat yang melakukan kegiatan penikmatan, dan pemain yang menyelenggarakan pagelaran. (Gho See Tjhiong,1990:27)

Beberapa definisi tentang gedung pagelaran atau teater :


  1. Suatu struktur ruang luar untuk pertunjukan pada masa Yunani, meliputi :

Panggung dengan sebuah bangunan dan biasanya tingkatan-tingkatan tempat duduk tak beratap berbentuk setengah lingkaran.

  1. Sebuah bangunan untuk pertunjukan pada masa modern, terutama berupa :

Sebuah panggung dan flies (sebuah struktur menggantung di langit-langit), dengan ruang ganti untuk pemain, dan auditorium yang seringkali dilengkapi balkon dan box-box. (Wisnu Haryono,1997:7)

2.3.5 Jenis Gedung Pagelaran

Bangunan pertunjukan dapat dikelompokan kedalam beberapa kategori berdasarkan bentuk, menurut kapasitasnya, menurut jenis panggungnya, menurut fungsinya, dll. Disini akan dijabarkan secara singkat pembagian jenis bangunan pertunjukan berdasar macam-macam kategori, yaitu :



  1. Lokasi

Diuraikan berdasarkan area cakupan, jumlah populasi, dan tingkat aksesbilitas menjadi :

  • Pusat Metropolitan.

  • Pusat Regional.

  • Town Center.

  • Neighbourhood Center.

  • Resor, Urban, Luar Kota (Rural), Tepi Laut.

  • Pusat Khusus (Specialist Center).

  • One-off Event.

  1. Kepemilikan

  • Pemerintah Lokal.

  • Institusi Pendidikan.

  • Sektor Komersial.

  • Pihak Swasta.

  • Sektor Sukarelawan.

  • Organisasi Masyarakat.

  • Pihak atau Badan Lain.

  1. Jenis Pertunjukan

  • Satu jenis pertunjukan utama : musik klasik, tari opera, musikal, jazz, musik pop/rock, drama.

  • Kombinasi beberapa jenis pertunjukan atau digabungkan dengan olahraga, seperti pada auditorium mulitipurpose.

  1. Bentuk Auditorium

  • Format proscenium.

  • Format arena.

  • Format open-trust.

  • Format gabungan (multiform).

  • Format multiuse.

  1. Kapasitas Tempat Duduk

  • Sangat Besar, kapasitas 1500 tempat duduk atau lebih.

  • Besar, kapasitas 900-1500 tempat duduk.

  • Sedang, Kapasitas 500-900 tempat duduk.

  • Kecil, Kapasitas dibawah 500 tempat duduk.

  • Area Terbuka

  1. Peran Fasilitas

  • Markas suatu organisasi atau perusahaan profesional

  • Markas beberapa grup profesional

  • Untuk fasilitas lingkungkan sekitarnya

  • Untuk pengajaran

  • Untuk festival atau acara tertentu

  1. Pilihan Produksi

  • Pertunjukan baru

  • Pertunjukan yang telah rutin (established work).

  • Pertunjukan ekspresimental.

  1. Pola Pemakaian

  • Repetisi (berulang atau rutin).

  • Berulang dalam jangka waktu tertentu.

  • Musiman.

  • Acara sesekali.

  1. Jenis dan Jumlah Penonton

  • Bebas untuk semua.

  • Terbatas untuk kalangan tertentu, seperti : anak-anak.

  • Ditujukan pada kalangan tertentu : klub, organisasi, karyawan perusahaan, dll.

  1. Kebijaksanaan Finansial

  • Mencari keuntungan.

  • Tidak mencari keuntungan (dengan atau tanpa subsidi).

  1. Kebijaksanaan Bangunan

  • Permanen atau temporer.

  • Indoor atau outdoor.

  • Formal atau informal.

  • Tingkat adaptasi.

  • Standar bangunan umum.

  1. Aktivitas Tambahan

  • Aktivitas yang dapat didukung auditorium, seperti : konferensi

  • Fasilitas umum lainnya : bar, restoran.

  • Fasilitas seni lainnya.

  • Fasilitas lainnya.

  • Fasilitas produksi.

  1. Komplek Bangunan

  • Lebih dari 1 auditorium dan fasilitas pendukung.

  • Kompleks lebih besar, seperti instuisi pendidikan.

(Wisnu Haryono,1997:14-15)

2.3.6 Jenis Auditorium Menurut Fungsi

  1. Auditorium Frontal Tetap

  1. Auditorium Frontal Semi Fleksibel

  • Dapat dirubah komposisi tempat duduknya,walaupun terbatas

  • Berbentuk amphiteater dengan galeri

  • Amphiteater terbagi dua : bagian depan dapat naik turun dan berubah fungsi menjadi orchestra pit atau panggung tambahan.

  1. Auditorium Konvertibel

  • Memiliki kemampuan berbagai macam konfigurasi auditorium dan panggung, sesuai dengan pertunjukan

  1. Auditorium Bebas

  • Tipe ini memberi kebebasan pada pemakai untuk mengatur sendiri konfigurasi auditoriumnya.

  • Ditujukan bagi fasilitas auditorium sekolah.

  • Berupa ruang kosong.

  1. Auditorium Multi Fungsi

  • Hampir sama dengan tipe auditorium semi-fleksibel, namun lebih ditujukan pada fleksibilitas aktifitas dan fungsi, daripada fleksibilitas tempat duduk.

  1. Teater Outdoor

  • Bentuk menyerupai bentuk teater klasik.

  • Menyatukan penonton, pemain, dan alam lingkungan sekitar.

(Wisnu Haryono,1997:15-18)

2.3.7 Jenis Auditorium Menurut Susunan Teater

  1. Auditorium Amphiteater

Gambar 2.1 Maison de la Culture – Le Harve, Perancis 1982 (Oscar Niemyer)

Sumber : One Stop Entertainment Center, 1997


  1. Auditorium dengan Box-Box



Gambar 2.2 Performing Art Center – Ithaca, New York 1988

(James Stirling & Michael Wilford)

Sumber : One Stop Entertainment Center, 1997



  1. Auditorium dengan Balkon

Gambar 2.3 Stadt Theater – Basel, Switzerland 1975

(Schwartz & Gutman)

Sumber : One Stop Entertainment Center, 1997



  1. Auditorium Kembar

Gambar 2.4 Theater de Genevilliers – Genevilliers, Prancis 1986

(Claude Vasconi)

Sumber : One Stop Entertainment Center, 1997



2.3.8 Jenis Auditorium Menurut Hubungan Antara Penonton dan Area Pentas

Berdasar hubungan antara penonton dengan area pentasnya bentuk ruang pertunjukan dibagi menjadi 7, yaitu :



  1. Tipe Melingkar 360o

Dimana penonton mengelilingi panggung, tidak memerlukan penghanyatan yang serius. Pentas dan penonton berada di satu ruang.

Sifat-sifatnya :



  • Komunikasi penonton dengan penonton dan pemain cukup erat.

  • Tidak dapat menggunakan dekor/latar belakang untuk menciptakan suasana.

  • Kharisma pemain kurang baik.

  • Faktor akustik kurang merata.

  • Dapat memuat penonton dalam jumlah yang relatif banyak.

  • Persyaratan jarak pengelihatan baik.

Gambar 2.5 (360o)

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990



  1. Tipe Melingkar 210o-220o

Merupakan variasi dari tipe melingkar 360o , dimana pemain dapat ke arena pentas tanpa melalui penonton.

Sifat-sifatnya :



  • Komunikasi penonton dengan pemain cukup erat.

  • Faktor akustik kurang merata.

  • Dapat memuat penonton dalam jumlah yang relatif banyak.

  • Persyaratan jarak penglihatan baik.

Gambar 2.6 (210-220o)

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990


  1. Tipe Melingkar 180o

Suatu pentas yang menjulur ke dalam arena auditorium. Dengan tempat duduk yang disusun pada ketiga sisi dari bentuk ruang pamerannya. Sedang sisi keempat digunakan untuk unsur-unsur tata seni rupa yang permanen atau latar belakang arsitektural. Meskipun dalam perwujudan secara struktural dia dihubungkan dengan pentas proscenium, tetapi perkembangan kronologisnya berasal dari pentas arena.

Sifat-sifatnya :



  • Penonton dengan pemain berada di dalam suasana tempat yang sama, sehingga menimbulkan kesan intim.

  • Persyaratan jarak penglihatan baik.

  • Penonton tidak dapat menikmati ekspresi pemain sepenuhnya, karena tidak semua berhadapan muka dengan pemain.

  • Keluar masuk/naik turun pemain kurang mewujudkan kharisma dari pemain.

Gambar 2.7 (180o)

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990


  1. Tipe Melingkar 90o

Di mana penonton menyaksikan pagelaran dalam satu arah di depan pertunjukan. Luasan pentas kecil, sehingga ada ide untuk membuat yang lebih besar.

Sifat-sifatnya :



  • Ekspresi pemain terlihat dengan baik.

  • Panggung terlalu kecil sehingga kadang menyulitkan pemain.

Gambar 2.8 (90o)

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990



  1. Pentas Transverse

Merupakan perkembangan dan variasi dari tipe arena. Pentas membagi ruang tersebut menjadi 2 bagian dengan penonton berada di kedua ujungnya menghadap ke tengah ruang atau pentas.

Sifat-sifatnya :



  • Tidak dapat menggunakan latar belakang sebagai dekor.

  • Tidak dapat menyaksikan ekspresi pemain sepenuhnya karena pada kondisi tertentu membelakangi penonton.

  • Faktor akustik kurang baik, karena sumber menghadap salah satu sisi penonton.

Gambar 2.9 Transverse Stage

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990



  1. Pentas Proscenium

Pentas yang umum dalam teater konvensional, bisa dikenal sebagai teater dua ruang. Penonton tersusun dalam jajaran yang menghadap suatu dinding yang berongga seterusnya dapat melihat suatu ruang kedua yang berpentas. Kedua ruang ini umumnya dipisahkan satu sama lain dengan sebuah relung proscenium dan tirai layar. Dinding proscenium bertindak sebagai penutup bagi peralatan pentas belakang, lampu dan penimbunan peralatan lain agar tidak terlihat dari auditorium.

Sifat-sifatnya :



  • Meningkatkan pandangan ke panggung sehingga semua penonton dapat melihat pertunjukan secara merata.

  • Melimitkan/membatasi orientasi pandangan (sudut kecil) dari pemain ke penonton.

  • Mudah mengontrol pemain dari samping panggung.

  • Mudah dalam penyebaran suara sehubung dengan akustik, karena sumber bunyi menghadap ke penonton.

Gambar 2.1.0 Proscenium

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990


  1. Pentas Space Stage

Dimana pentas mengelilingi sebagian bahkan semua penonton.

Sifat-sifatnya :



  • Karena luasnya panggung maka penonton tidak dapat menyaksikan sepenuhnya, karena harus mengalihkan pandangan.

  • Sebagian penonton dikelilingi pentas, sehingga dapat menciptakan keakraban.

  • Keluar masuknya pemain kurang mewujudkan kharisma pemain.

  • Faktor akustik kurang merata.

  • Jarak pandang baik.

(Gho See Tjhiong,1990:28-33)

Gambar 2.1.1 Space Stage

Sumber : Gho See Tjhiong, 1990

  1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə