Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap




Yüklə 101.67 Kb.
tarix22.04.2016
ölçüsü101.67 Kb.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP


AUDIT DELAY DI INDONESIA

Oleh


Imam Subekti & Novi Wulandari Widiyanti
ABSTRACT
Timeliness represent very important matter in determining financial statement value. This research is purposed to investigate influenced audit delay factors. That are level of firm profitability, firm size, industrial sector, audior’s opinion, and public accountant size.

Samples are selected by mothod of purposive sampling. Regression analysis is used to investigate influenced audit delay factors. The result of this research show that level of firm profitability, firm size, industrial sector, audior’s opinion, and public accountant size influence to audit delay. This result is recommended for auditor to increase effectiveness of his audit perfomance. For company, this result can increase assisting to his auditor in running process of auditing.


Keywords: audit delay, accuracy of reporting time, influencing factors, time of finishing audit.

I Pengantar


Perkembangan pasar modal di Indonesia berdampak peningkatan permintaan akan audit laporan keuangan. Setiap perusahaan yang go public diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal. Hasil audit atas perusahaan publik mempunyai konsekuensi dan tanggungjawab yang besar. Adanya tanggungjwab yang besar ini memacu audit untuk bekerja secara lebih profesional. Salah satu kriteria profesionalisma dari auditor adalah ketepatan waktu penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat umum dan kepada BAPEPAM juga tergantung dari ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan keuangan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2001) khususnya tentang standar pekerjaan lapangan mengatur tentang prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlu adanya perencanaan atas aktivitas yang akan dilakukan, pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern dan pengumpulan bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pemenuhan standar audit oleh auditor dapat berdampak lamanya penyelesaian laporan audit, tetapi juga berdampak peningkatan kualitas hasil auditnya. Pelaksanaan audit yang semakin sesuai dengan standar membutuhkan waktu semakin lama. Sebaliknya, semakin tidak sesuai dengan standar pekerjaan audit semakin pendek waktu yang diperlukan. Kondisi ini dapat meninmbulkan suatu dilema bagi auditor.

Lamanya waktu penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi ketepatan waktu informasi tersebut dipublikasikan. Dyer dan McHugh (1975) menyimpulkan bahwa ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan elemen pokok bagi catatan laporan keuangan yang memadai. Para pemakai informasi akuntansi tidak hanya perlu memiliki informasi keuangan yang relevan dengan prediksi dan pembuatan keputusannya, tetapi informasi harus bersifat baru. Ketepatan waktu mengimplikasikan bahwa laporan keuangan seharusnya disajikan pada suatu interval waktu, untuk menjelaskan perubahan dalam perusahaan yang mungkin mempengaruhi pemakai informasi dalam membuat prediksi dan keputusan.

Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Keterlambatan informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Karena laporan keuangan auditan yang di dalamnya memuat informasi laba yang dihasilkan oleh perusahaan bersangkutan dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya informasi laba dari laporan keuangan yang dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham. Chambers and Penman (1984) menunjukkan bahwa pengumuman laba yang terlambat menyebabkan abnormal returns negatif sedangkan pengumuman laba yang lebih cepat menyebabkan hal yang sebaliknya. Keterlambatan pelaporan, secara tidak langsung juga diartikan oleh investor sebagai sinyal yang buruk bagi perusahaan.

Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor. Perbedaan waktu ini dalam audit sering dinamai dengan audit delay. Semakin panjang audit delay maka semakin lama auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Penelitian ini akan menginvestigasi tentang faktor-faktor yang menjadi penyebab panjang-pendeknya audit delay.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Carslaw dan Kaplan (1991), Courtis (1976), Dyer dan McHugh (1975), Halim (2000), Givoly (1982), dan Na’im (1999). Penelitian ini dilakukan dengan obyek laporan keuangan auditan terjadi di Indonesia pada masa krisis ekonomi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada sebelumnya dengan tambahan variabel jenis industri manufaktur dan finansial. Penggunaan variabel jenis industri untuk penelitian dengan topik audit delay masih belum banyak digunakan di Indonesia.



II Telaah Teori dan Perumusan Hipotesis


Ketepatan waktu penerbitan laporan keuangan auditan merupakan hal yang sangat penting khususnya untuk perusahaan-perusahaan publik yang menggunakan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan. Namun auditor memerlukan waktu yang cukup untuk dapat mengumpulkan bukti-bukti kompeten yang dapat mendukung opininya. Lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal ditandatanganinya laporan audit (tanggal opini) ini kemudian didefinisikan sebagai audit delay (Halim, 2000).

Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi audit delay telah dikaji dalam beberapa penelitian sebelumnya. Faktor-faktor tersebut antara lain:



1. Ukuran Perusahaan

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan seperti penelitian Courtis (1976), Gilling (1977), Ashton dan Elliot (1987) menunjukkan bahwa faktor ukuran perusahaan dengan indikator total aktiva memiliki pengaruh yang besar terhadap audit delay. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin pendek audit delay dan sebaliknya. Perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan dan pemerintah. Pihak-pihak ini sangat berkepentingan terhadap informasi yang termuat dalam laporan keuangan. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan berskala besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk mengumumkan audit lebih awal (Dyer dan McHugh, 1975). Di samping itu perusahaan besar pada umumnya telah memiliki sistem pengendalian internal yang lebih baik sehingga memudahkan auditor menyelesaikan pekerjaannya.



2. Jenis Perusahaan

Courtis (1976), Ashton dan Elliot (1987) menemukan bahwa jenis perusahan finansial mengalami audit delay yang lebih pendek dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dalam jenis industri lain. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan finansial tidak memiliki saldo perusahaan yang cukup signifikan sehingga audit yang dilakukan cenderung tidak membutuhkan waktu yang lama. Selain itu kebanyakan asset yang dimiliki adalah berbentuk nilai moneter sehingga lebih mudah diukur bila dibandingkan dengan asset yang berbentuk fisik seperti persediaan, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud (Anthony dan Govindarajan, 1995).



3. Opini

Hasil penelitian Whittred (1980) membuktikan bahwa audit delay yang lebih panjang dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat qualified opinion. Hal ini terjadi karena proses pemberian pendapat qualified tersebut melibatkan negoisasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior atau staf teknis dan perluasan lingkup audit. Namun penelitian Na’im (1998) di Indonesia menunjukkan bahwa opini yang dikeluarkan oleh auditor tidak berpengaruh terhadap ketidaktepatan pelaporan keuangan.



4. Tingkat Profitabilitas

Faktor lain yang diperkirakan berpengaruh adalah perusahaan yang mengumumkan rugi atau tingkat profitabilitas yang rendah. Ini berkaitan dengan akibat yang dapat ditimbulkan oleh pasar terhadap pengumuman rugi tersebut bagi perusahaan. Penelitian Na’im (1998) juga menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas yang lebih rendah memacu kemunduran publikasi laporan keuangan. Ada beberapa alasan yang mendorong terjadinya kemuduran laporan publikasi yaitu: pelaporan laba atau rugi sebagai indikator good news atau bad news atas kinerja manajerial perusahaan dalam setahun (Ashton dan and Elliot, 1987). Berdasarkan penelitian Carslaw and Kaplan (1991) perusahaan yang melaporkan kerugian mungkin akan meminta auditor untuk mengatur waktu auditnya lebih lama dibandingkan biasanya. Sebaliknya jika perusahaan melaporkan laba yang tinggi maka perusahaan berharap laporan keuangan auditan dapat diselesaikan secepatnya, sehingga good news tersebut segera dapat disampaikan kepada para investor dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.



5. Auditor

Faktor auditor (ukuran KAP) yang mengaudit juga diperkirakan akan berpengaruh terhadap audit delay. Imam (2001) melakukan penelitian tentang audit delay di Bangladesh membagi auditor (ukuran KAP) manjadi KAP lokal-besar dan KAP lokal-kecil berdasarkan:

a. Jumlah partner

b. Kualifikasi dari patner

c.Adanya ikatan/ hubungan dengan KAP yang memiliki reputasi internasional

Penelitian Gilling (1977) menunjukkan bahwa kantor akuntan publik internasional atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai The Big Six membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam menyelesaikan audit, karena KAP tersebut dianggap dapat melaksanakan audit secara lebih efisien dan memiliki tingkat fleksibilitas jadwal waktu yang lebih tinggi untuk menyelesaikan audit tepat pada waktunya. Di samping itu KAP besar memperoleh insentif yang lebih tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan auditnya lebih cepat dibandingkan KAP lainnya. Waktu audit yang lebih cepat juga merupakan cara KAP besar untuk mempertahankan reputasi mereka. Jika tidak maka untuk tahun yang akan datang mereka akan kehilangan kliennya. KAP yang besar biasanya juga didukung oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang lebih baik sehingga akan berpengaruh pada kualitas jasa yang dihasilkan (Hossain, 1998).

Hasil penelitian Courtis (1976) menunjukkan bahwa variabel yang paling signifikan pengaruhnya terhadap audit delay adalah tingkat profitabilitas perusahaan. Jika perusahaan menghasilkan tingkat profitabilitas yang lebih tinggi maka audit delay akan lebih pendek dibandingkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang lebih rendah. Perusahaan tambang dan eksplorasi lebih lambat pelaporannya daripada kelompok industri tertentu. Sedangkan ukuran perusahaan (total aktiva), umur perusahaan, jumlah pemegang saham dan jumlah halaman pelaporan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap audit delay. Rata-rata audit delay untuk perusahaan-perusahaan publik di New Zealand adalah 83 hari

Givoly and Palmon (1982) melakukan penelitian terhadap lima aspek yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan yang meliputi trend keterlambatan laporan keuangan, bentuk pengumuman dalam industri, hubungan antara keterlambatan pelaporan dengan isi laporan, hubungan antara keterlambatan dengan atribut perusahaan dan hubungan antara ketepatan waktu pelaporan dengan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterlambatan yang terjadi antara 41 hingga 63 hari. Tepat waktu dikaitkan dengan isi laporan adalah kelambatan penerbitan laporan keuangan dikaitkan dengan berita baik (good news) dan berita buruk (bad news). Berita baik dan buruk erat kaitannya dengan tingkat profitabilitas perusahaan. Perusahaan yang tingkat labanya tinggi akan menerbitkan laporan keuangan lebih cepat daripada perusahan yang tingkat profitabilitasnya rendah.

Tepat waktu yang dikaitkan dengan atribut perusahaan, variabel bebas yang dipakai adalah ukuran perusahaan, kualitas sistem pengendalian intern dan kompleksitas operasi. Kompleksitas operasi diukur dengan perkembangan penjualan dan proporsi persediaan terhadap aktiva. Tepat waktu dihubungkan dengan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan khususnya dikaitkan dengan reaksi pasar terhadap diterbitkannya laporan keuangan dengan melihat harga saham sebelum dan sesudah diterbitkannya laporan keuangan. Perusahaan yang menyampaikan laporan keuangannya terlambat lebih sedikit informasi yang dikandungnya daripada perusahaan yang menyampaikan laporan keuangannya lebih awal.

Ashton dan Elliot (1987) meneliti hubungan antara audit delay dengan beberapa variabel independen yang terdiri dari total pendapatan, kompleksitas perusahaan, jenis industri, status perusahaan publik atau non publik, bulan penutupan tahun buku, kualitas sistem pengendalian internal, kompleksitas operasional, kompleksitas keuangan, kompleksitas pelaporan keuangan, EDP, campuran relatif antara waktu pemeriksaan pada interim dan akhir tahun, lamanya perusahaan menjadi klien kantor akuntan publik, besarnya laba atau rugi, tingkat profitabilitas dan jenis opini. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata interval waktu antara tanggal penutupan, tahun buku dan tanggal laporan audit adalah 62,5 hari dengan variabel-variabel yang signifikan berpengaruh memperpanjang audit delay adalah jenis opini qualified, jenis perusahaan industri dibandingkan perusahaan finansial, status perusahaan bukan publik, bulan penutupan tahun buku selain bulan Desember, SPI EDP yang lemah dan pekerjaan pemeriksaan relatif lebih banyak dilakukan setelah berakhirnya penutupan tahun buku.

Carslaw dan Kaplan (1991) melakukan penelitian mengenai audit delay pada perusahaan-perusahaan publik di New Zealand. Variabel yang digunakan adalah ukuran perusahaan, jeni industri (finansial dan non finansial), melaporkan laba atau rugi, adanya extraordinary item, jenis opini akuntan publik, auditor, tahun buku perusahaan, kepemilikan perusahaan dan proporsi hutang terhadap total asset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang signifikan berpengaruh adalah ukuran perusahaan (total asset) dan perusahaan melaporkan kerugian. Sedangkan rata-rata audit delay di New Zealand pada tahun 1987, 88 hari dan tahun 1988 sebesar 95 hari.

Hossain (1998) melakukan penelitian pada perusahaan-perusahaan publik di Pakistan, dengan menggunakan sampel 103 perusahaan yang terdaftar di Karachi Stock Exchange pada tahun 1993. Variabel independen yang digunakan adalah ukuran perusahaan (total asset), debt equity ratio, perusahaan melaporkan laba/ rugi, adanya cabang perusahaan untuk perusahaan mulltinasional, dan auditor. Dari hasil uji korelasi antar variabel independen menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara variabel cabang dalam perusahaan multinasional dan auditor dibandingkan korelasi variabel-variabel perusahaan lainnya. Sedangkan rata-rata audit delay-nya adalah 4,77 bulan.

Halim (2000) melakukan penelitian tentang audit delay di Indonesia dengan menggunakan sampel 287 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1997. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain total revenue, jenis industri, bulan penutupan buku tahunan, lamanya menjadi klien KAP, rugi/laba operasi, tingkat profitabilitas, jenis opini. Dari hasil penelitian univariate diperoleh indikasi bahwa audit delay cenderung panjang apabila perusahaan menggunakan tahun buku 31 Desember, perusahaan telah lama menjadi klien KAP tertentu dan melaporkan kerugian. Hasil penelitian multivariate menunjukkkan bahwa ketujuh faktor tersebut secara serentak sangat berpengaruh terhadap audit delay, namun yang konsisten berpengaruh terhadap audit delay adalah tahun buku dan pelaporan kerugian. Rata-rata audit delay pada perusahaan-perusahaan publik di BEJ adalah 84,5 hari.

Hanipah (2001) melakukan penelitan tentang rata-rata audit delay pda perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ pada tahun 1999. Variabel yang digunakan antara lain ukuran perusahaan, jenis pendapat akuntan publik, tingkat profitabilitas, pelaporan laba/ rugi, dan auditor. Hasil penelitian menunjukkan waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal ditandatanganinya laporan audit untuk perusahaan manufaktur di BEJ adalah sebesar 89,96 hari. Waktu penyelesaian audit cenderung panjang apabila ukuran perusahaan menjadi semakin besar, mendapatkan opini unqualified opinion, tingkat profitabilitas yang rendah dan dan mengalami kerugian

Ha: Profitabilitas perusahaan, ukuran perusahaan, jenis industri, opini audittor, dan ukuran auditor berpengaruh signifikan terhadap audit delay.
III METODA PENELITIAN

3.1. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ pada tahun 2001. Sampel dipilih dengan metoda purposive sampling dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:



    1. Perusahaan-perusahaan tersebut mulai terdaftar pada Bursa Efek Jakarta tahun 2001 atau sebelumnya.

    2. Perusahaan tersebut telah menerbitkan laporan keuangannya untuk periode yang berakhir 31 Desember.

    3. Perusahaan tersebut masuk dalam kategori perusahaan manufaktur dan finansial.

    4. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki total asset lebih dari 500 miliar rupiah.

    5. Saham perusahaan-perusahaan tersebut aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta.

Alasan pemilihan sampel dengan kriteria tersebut bertujuan untuk menghindari bias yang disebabkan oleh adanya perbedaan yang ekstrim. Berdasarkan kriteria ini maka perusahaan yang terpilih sebagai sampel adalah 72 perusahaan dengan perincian 55 perusahaan manufaktur dan 17 perusahaan.

Tabel 1 Hasil Seleksi Sampel Penelitian

---------------------------------------------------------------------------------------------

Jumlah perusahaan publik di BEJ tahun 2001 323 perusahaan

Jumlah perusahaan bukan jenis industri dan finansial (210)

Jumlah perusahaan dengan total aktiva di bawah 500 M ( 27)

Perusahaan yang sahamnya tidak aktif diperdagangkan ( 12)

Perusahaan yang laporan keuangannya tidak 31 Desember ( 2)

-------------------

Jumlah Sampel Penelitian 72 perusahaan

---------------------------------------------------------------------------------------------

3.2 Data dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan auditor independen masing-masing perusahaan publik yang tersedia di Pojok BEJ-UNIBRAW, dan akses internet melalui www.jsx.co.id.


3.3 Pengukuran Variabel Penelitian

3.3.1 Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah audit delay yaitu jangka waktu antara tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal opini pada laporan auditor independen. Variabel ini diukur secara kuantitatif dalam jumlah hari.



3.3.2 Variabel Independen (X)

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:



  1. Tingkat Profitabilitas (X1), tingkat profitabilitas diukur dari net income dibagi dengan total asset. Perusahaan yang tingkat profitabilitasnya tinggi diduga waktu yang diperlukan untuk menyelesaian audit akan lebih pendek.

Profitabilitas = Net Income X 100%

Total Asset




  1. Ukuran Perusahaan (X2), ukuran perusahaan dinyatakan dalam total asset yang dimiliki perusahaan. Ukuran telah digunakan oleh Courtis (1976); Gilling (1977); Ashton dan Elliot (1987); Charslaw dan Kaplan (1991); Hossain (1998).

  2. Jenis Industri Perusahaan (X3), variabel jenis industri perusahaan merupakan variabel dummy yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu jenis industri manufaktur dan jenis industri finansial. Untuk perusahaan yang masuk kategori manufaktur diberi kode dummy 1, dan sebaliknya jika perusahaan masuk kategori non manufaktur diberi kode dummy 0.

  3. Jenis Pendapat Akuntan Publik (X4), ada dua jenis pendapat akuntan publik yaitu qualified opinion dan unqualified opinion. Untuk jenis pendapat qualified opinion diberi kode dummy 1 dan pendapat unqualified opinion diberi kode dummy 0.

  4. Ukuran Auditor-Kantor Akuntan Publik/ KAP (X5), KAP diklasifikasikan menjadi dua yaitu KAP The Big Five diberi kode 1 dan lainnya diberi kode 0. Diduga KAP besar akan lebih pendek waktu penyelesaian auditnya.


3.4 Pengujian Hipotesis

Hipotesis penelitian akan diuji dengan analisis regresi. Model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y =
Keterangan:

Y= lamanya waktu penyelesaian audit (AUDIT DELAY)



x1 = tingkat profitabilitas (net income/ total asset)

x2 = total aktiva (AKTIVA)

x3 = jenis industri (INDUS)

x4 = jenis pendapat akuntan publik (OPINI)

x5 = auditor (ukuran KAP)

0 = konstanta

e = kesalahan


3.5 Pengujian Asumsi Klasik

Asumsi klasik yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:



1. Normalitas

Distribusi normal merupakan distribusi teoritis dari variabel random yang kontinyu. Kurva yang menggambarkan distribusi normal adalah kurva normal yang berbentuk simetris. Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis distribusi normal maka digunakan pengujian Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test terhadap masing-masing variabel. Jika probabilitas > 0,05 maka data berdistribusi normal. Sebaliknya, jika probabilitas < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.



2. Uji Multikolinearitas

Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, dalam penelitian ini dengan menggunakan tolerance and value inflation factor atau VIF (Aliman, 2000: 57). Jika VIF lebih besar dari 5, maka variabel tersebut mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas yang lainnya.



3. Uji Autokorelasi.

Untuk dapat mendeteksi adanya autokorelasi akan digunakan metoda pengujian Durbin Watson. Model regresi tidak mengandung masalah autokorelasi jika kriteria du d 4-du ini dipenuhi



4. Uji Heteroskedastisitas.

Pengujian adanya heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Korelasi Rank Spearman antara variabel independen dengan besarnya angka residual (kesalahan) dari regresi. Jika nilai t-hitung atau korelasi tidak signifikan maka regresi tidak menggandung gejala heterokedastisitas. Sebaliknya, jika korelasi atau t-hitung adalah signifikan maka regresi mengandung heterokedastisitas.


IV Hasil Analisis dan Pembahasan

4.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dari variabel penelitian disajikan pada tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata audit delay yang terjadi di Indonesia pada tahun 2001 adalah 98,38 hari. Rata-rata audit delay ini lebih panjang jika dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Ekowati (1996) menunjukkan bahwa rata-rata audit delay pada tahun 1993 sebanyak 72 hari dan tahun 1994 sebanyak 78 hari. Sedangkan dalam penelitian Halim rata-rata audit delay yang terjadi 84,45 hari (tahun 1997) dan penelitian Hanipah ( tahun 1999) rata-rata audit delay 89,96 hari. Peningkatan waktu audit delay dari tahun ke tahun ini mungkin disebabkan karena adanya peningkatan jumlah perusahaan yang diaudit oleh auditor sejalan dengan kenaikan jumlah perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta dari tahun ke tahun. Kenaikan jumlah perusahaan yang diaudit dapat menyebabkan proses pengauditan memerlukan waktu yang lebih lama, karena auditor tidak hanya memeriksa satu perusahaan saja, melainkan beberapa perusahaan sekaligus.

Tabel 2

Statistik Deskriptif



Variabel

Mean

Standar Deviasi

AUDELAY

98,38

32,16

INDUS

Na*

Na*

OPINI

Na*

Na*

AUDITOR

Na*

Na*

PROFIT

1,0093

11,8620

AKTIVA *

9,1E + 12

2,065E + 13

*Variabel Dummy
Rata-rata total aktiva untuk 72 sampel perusahaan publik yang diteliti adalah 9,1 trilyun Rupiah. Standar deviasi untuk total aktiva adalah 20,6 trilyun. Kenaikan total aktiva ini dapat disebabkan oleh kenaikan laba yang ditahan, penambahan hutang, atau pengeluaran saham baru melalui penawaran terbatas dan akuisisi. Untuk tingkat profitabilitas rata-rata perusahaan sampel adalah 1,03 %. Tingkat profitabilitas ini relatif kecil karena sepanjang tahun 2001 ada 25 perusahaan (34,72%) yang melaporkan menderita kerugian. Di samping itu ada kemungkinan tingkat profitabilitas yang kecil ini disebabkan aktiva yang terlalu besar, juga komposisi hutang yang besar sehingga biaya bunga yang harus dibayar tinggi sehingga akan mengurangi jumlah laba yang diperoleh perusahaan.

Dari 72 sampel yang digunakan dalam penelitian ini, 76,4% bergerak di bidang manufaktur dan sisanya (23,6%) bergerak di bidang jasa keuangan/ finansial. Perusahaan yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) sebesar 88,9%, sisanya (11,1%) memperoleh opini selain wajar tanpa pengecualian. Perusahaan yang diperiksa oleh akuntan publik yang memiliki ikatan hubungan internasional atau yang lebih dikenal sebagai the big five sebesar 79,2% dan sisanya (20,8%) diperiksa oleh non the big five.


4.2. Hasil Pengujian Hipotesis

Hasil pengujian hipotesis dengan regresi disajikan pada tabel 3 berikut ini.



Tabel 3 Hasil Pengujian Hipotesis dengan Analisis Regresi Berganda


Keterangan

Koefisien Beta

t-value

Sign. T

F-value

Sign. F

R-Square

Konstanta

179,511

6,580*

0,000

13,496

0,000

0,506

Profit

-1,207

-5,041**

0,000










Aktiva

-4,747

-2,357*

0,021










Indus

-14,231

-2,034*

0,046










Opini

21,034

2,127*

0,037










Auditor

-15,606

-2,077*

0,042










** signifikan pada level 0,001 *signifikan pada level 5%
Dari hasil uji F dapat diketahui bahwa nilai F-hitung yang dihasilkan adalah 13,496 dengan probabilitas sebesar 0,000. Dengan hasil maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis didukung dalam penelitian. Ini berarti bahwa variabel dependen audit delay dipengaruhi oleh kelima variabel independen yaitu profitabilitas perusahaan, aktiva perusahaan, sektor industri, opini audit, dan ukuran auditor atau Kantor Akuntan Publik. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya seperti Halim (2000), Na’im (1999), Hanipah (2001).

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik

Hasil uji normalitas dengan metode Kolmogorov Smirnov diperoleh nilai chi square sebesar 0,102 dengan probabilitas 0,058 (lebih besar dari 0,05). Karena probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, penelitian ini menggunakan nilai VIF. Hasil uji multikolinearitas disajikan pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4 Hasil Uji Multikolinearitas


Variabel Bebas

VIF

Keterangan

Profit

1,137

Non Multikolinearitas

Aktiva

1,094

Non Multikolinearitas

Indus

1,111

Non Multikolinearitas

Opini

1,216

Non Multikolinearitas

Auditor

1,171

Non Multikolinearitas

Asumsi autokorelasi diuji dengan menggunakan uji Durbin Watson (DW). Besarnya DW dibandingkan dengan nilai dU dan dL pada tabel Durbin Watson. Nilai DW yang diperoleh dari hasil uji non autokorelasi sebesar 2,072. Sedangkan dari tabel Durbin Watson, diperoleh nilai dL = 1,4732 dan nilai dU = 1,7688. Maka nilai DW yang diperoleh terletak diantara dU

Uji non herekedastisitas yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil uji heterkedastisitas disajikan pada tabel 5 berikut ini. Tabel 5 tersebut menyimpulkan bahwa data penelitian yang digunakan dalam analisis regresi tidak mengandung masalah heteroskedastisitas.

Tabel 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas



Variabel bebas

Koefisien korelasi (r)

Probabilitas (p)

Keterangan

Profit

-0,212

0,073

Homoskedastisitas

Aktiva

0,137

0,251

Homoskedastisitas

Indus

-0,168

0,159

Homoskedastisitas

Opini

0,228

0,055

Homoskedastisitas

Auditor

-0,175

0,141

Homoskedastisitas


V Simpulan, Keterbatasan, dan Saran

5.1 Simpulan

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kelima variabel tingkat profitabilitas, aktiva, jenis industri, opini dan auditor (ukuran KAP) berpengaruh signifikan terhadap variabel audit delay. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Halim (2000), Na’im (1999), Hanipah (2001). Ini artinya bahwa pelaksanaan audit oleh KAP di Indonesia tidak terpengaruh kondisi krisis ekonomi. Pelaksanaan audit di Indonesia terhadap perusahaan publik terkait dengan peraturan BAPEPAM tentang batas akhir publikasi dan penyampaian laporan keuangan auditan oleh perusahaan pada publik, Bursa Efek Jakarta maupun pada BAPEPAM.




    1. Keterbatasan dan Saran

Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, penelitian ini hanya menggunakan 5 variabel saja dalam menguji audit delay. Beberapa faktor lain yang mungkin memiliki pengaruh terhadap audit delay seperti faktor perusahaan publik dan non publik, faktor luas audit yang dilakukan, faktor lamanya menjadi klien KAP yang bersangkutan tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Kedua, penelitian ini hanya menggunakan data sekunder, data-data primer yang tidak dipublikasikan seperti luas audit yang dilakukan, tingkat pengendalian internal klien, kompleksitas EDP, risiko audit, yang tidak dimasukkan dalam penelitian. Untuk penelitian berikutnya, sebaiknya menambah variabel yang berasal dari dari primer yang tidak digunakan dalam penelitian ini. tingkat pengendalian internal perusahaan, kategori perusahaan publik atau non publik, tingkat kompleksitas EDP, faktor resiko audit.

Ketiga, waktu penelitian juga terbatas hanya 1 tahun, menyebabkan penelitian ini tidak dapat melihat trend/kecenderungan terjadinya audit delay sepanjang tahun. Hasil trend/ kecenderungan audit delay ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan apakah dari tahun ke tahun audit delay yang terjadi semakin meningkat jumlah harinya atau justru laporan auditor independen yang dihasilkan semakin tepat waktu. Sebaiknya, penelitian berikutnya juga menggunakan periode waktu yang lebih panjang.

Kepada auditor, disarankan untuk merencanakan pekerjaan lapangan dengan sebaik-baiknya sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Mengingat jumlah klien yang diaudit dari tahun ke tahun semakin meningkat, maka auditor harus merencanakan dengan seksama agar laporan keuangan auditan yang dihasilkan tepat waktu. Untuk itu auditor dapat memulai pekerjaan lapangan sebelum tahun buku berakhir, mengingat penunjukan auditor untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan publik sudah dilakukan oleh manajemen sebelum tanggal penutupan buku, yaitu pada saat rapat umum pemegang saham.

Kepada perusahaan publik, disarankan untuk memberikan keleluasaan kepada auditor untuk melakukan pekerjaan lapangan sebelum tanggal penutupan buku. Perusahaan diharapkan dapat membantu pekerjaan auditor, dengan memberikan data-data yang diperlukan selama proses pemeriksaan, memberikan jawaban-jawaban yang benar dan wajar atas pertanyaan yang diajukan oleh auditor sehingga laporan keuangan auditan dapat diterbitkan lebih awal.



DAFTAR PUSTAKA

Aliman, 2000, Modul Ekonometrika Terapan, PAU Studi Ekonomi UGM, Yogyakarta.

Anthony, R.N, and V. Govindarajan, 1995, Management Control Systems, Eight Edition, Irwin, Chicago.
Ashton R.H, and Willingham Elliot, 1987, An Empirical Analysis of Audit Delay, Journal of Accounting Research (Autumn), p. 275-292.
Carslaw, C. A. P. N., and S.E. Kaplan, 1991, An Examination of Audit Delay: Further Evidence from New Zealand, Accounting and Bussines Research (Winter), p. 21-32.
Chambers, A. E, and S. H. Penman, 1984, Timeliness of Reporting and The Stock Price Reaction to Earning Announcement, Journal of Accounting Research (Spring), p. 21-47.
Courtis, J. K, 1976, Relationship Between Timeliness in Corporate Reporting and Corporate Atributes, Accounting and Bussiness Research (Winter), p. 45-56.
Dyer, J. D., and A. J. McHugh, 1975, The Timeliness of The Australian Reports, Journal of Accounting Research (Autumn), p. 204-219.
Ekowati, Wiwik Hidajah, 1996, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelambatan Penerbitan Laporan Keuangan, Thesis, Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Gilling, D.M., 1977, Timeliness in Corporate Reporting : Some Further Comment, Accounting and Bussiness Research (Winter), p. 34-36.
Givoly, D, dan D. Palmon, 1982, Timeliness of Annual Earnings Announcement: Some Empirical Evidence, The Accounting Review (July), p. 486-508.
Halim, Varianada, 2000, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Delay, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 2 No. 1, p. 63-75.
Hanipah, 2001, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lamanya Penyelesaian Audit (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan Manufaktur di BEJ), Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.
Hossain, Monirul Alam, 1998, An Examination of Audit Delay: Evidence from Pakistan, Diakses pada tanggal 16 Agustus 2003, www3.bus.osaka-cu.ap
IAI-Kompartemen Akuntan Publik, 2001, Standar Profesional Akuntan Publik, PT Salemba Empat, Jakarta.
Imam, Shahed, 2001, Association of Audit Delay and Audit Firms’ International Links: Evidence from Bangladesh, Managerial Auditing Journal 16/3, p. 129-133.
Na’im, Ainun, 1999, Nilai Informasi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan: Analisis Empirik Regulasi Informasi di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 14, No. 2, hal. 85-100.
Whittred, G. P, 1980, Audit Qualification and The Timeliness of Corporate Annual Reports, The Accounting Review (October), p. 563-577.
Lampiran 1 Nama Kantor Akuntan Publik dan Jumlah Perusahaan yang Diaudit

Tahun 2001




No.

Nama Kantor Akuntan Publik

Jumlah Perusahaan

Bentuk Kepemilikan

1.

Prasetio Utomo & Co

26

The Big Five

2.

HTM

22

The Big Five

3.

Aryanto, Agus Mulyo

1

Non The Big Five

4.

Kusbandijah, Beddy Samsi

1

Non The Big Five

5.

Hadi Sutanto

5

The Big Five

6.

Siddharta Siddharta, Harsono

4

The Big Five

7.

RB. Tanubrata

1

Non The Big Five

8.

Edi Pianto

2

Non The Big Five

9.

Adi Wirawan

1

Non The Big Five

10.

Kanto S.,Tony & Co

1

Non The Big Five

11.

Razmal Muin

1

Non The Big Five

12.

Hariawan Pribadi

1

Non Th Big Five

13.

Trisno, Thomas Iguana

1

Non The Big Five

14.

VJH Boentaran Lesmana

2

Non The Big Five

15.

Robert Yogi

1

Non The Big Five

16.

Hanadi, Sarwoko

1

The Big Five

17.

Ronny, Wijata Dharma

1

Non The Big Five




Total

72



Lampiran 2 Jumlah Perusahaan yang Melaporkan Laba atau Rugi



No

Laba/Rugi

Jumlah

Persentase

1.

Perusahaan yang melaporkan laba

47

65,27

2.

Perusahaan yang melaporkan rugi

25

34,73




Total

72

100

Lampiran 3 Jumlah Perusahaan Menurut Opini yang Dihasilkan



No.

Opini yang Dihasilkan

Jumlah

Persentase

1.

Perusahaan dengan opini wajar tanpa pengecualian

64

88,88

2.

Perusahaan dengan opini selain wajar tanpa pengecualian

8

11,12




Total

72

100






Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə