Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Surat ke-38 ini diturunkan di Mekah sebanyak 88 ayat




Yüklə 164.79 Kb.
səhifə1/4
tarix21.04.2016
ölçüsü164.79 Kb.
  1   2   3   4
SHAD

(Shad)
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Surat ke-38 ini diturunkan di Mekah sebanyak 88 ayat.
Shad, demi al-Qur'an yang mempunyai keagungan. (QS. Shad 38:1)

Shad (shad). Yakni, surat ini bernama Shad. Penafsiran ayat ini seperti ayat-ayat lain yang sama dengannya.

Asy-Sya'abi berkata: Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki rahasia pada setiap Kitab-Nya. Dan rahasia Allah di dalam al-Qur`an berupa pembuka-pembuka surat.



Wal qur`ani dzidz dzikri (demi al-Qur'an yang mempunyai keagungan). Wawu pada penggalan ini bermakna sumpah. Dzikru berarti ketinggian dan kemulian, atau peringatan dan nasehat, atau menyebutkan sesuatu yang penting dalam urusan agama seperti syari'at, hukum, dan yang lainnya berupa kisah-kisah para nabi, kabar-kabar tentang umat-umat dahulu, serta janji dan ancaman.
Sebenarnya orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit (QS. Shad 38:2)

Balill ladzina kafaru (sebenarnya orang-orang kafir) dari kalangan pemuka Mekah itu…

Fi ‘izzatin (berada dalam kesombongan). Al-‘izzah berarti merasa kuat. Ia berarti menolak dan enggan untuk menerima kebenaran. Pada hakikatnya izzah ini merupakan kerendahan dan hinaan. Makna ayat: Sebenarnya mereka berada dalam kesombongan, sehingga tidak mengakui kebenaran, tidak beriman, dan sangat menutup diri.

Wa syiqaqin (dan permusuhan yang sengit). Yakni menentang Allah dan sangat memusuhi Rasulullah saw. Karena itu, mereka tidak patuh.
Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal waktu itu bukanlah saat untuk lari melepaskan diri (QS. Shad 38:3)

Kam ahlakna min qablihim min qarnin (betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan). Yakni Kami membinasakan umat-umat terdahulu sebelum mereka disebabkan kesombongan dan penentangan.

Fanadau (lalu mereka menyeru) - ketika diturunkannya siksa dan pembalasan Kami - untuk meminta tolong atau bertobat dan memohon ampunan agar selamat dari siksa-Nya.

Walata hina manash (padahal bukanlah saat untuk melepaskan diri). Al-manash berarti tempat melarikan dan menyelamatkan diri. Nasha yanush, jika dia lari karena ingin selamat.
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, "ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS. Shad 38:4)

Wa ‘ajibu `an ja`ahum mundzirum minhum (dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan). Kaum kafir Mekah merasa heran dengan datangnya orang yang memperingatkan mereka akan azab Allah. Mereka heran terhadap rasul yang datang dari golongan mereka sendiri. Keheranan mereka ditunjukkan dengan berkata, “Sungguh, Muhammad itu sama dengan kalian dalam hal fisik, akhlak, nasab, postur, dan rupanya. Apakah masuk akal jika dia lebih diistimewakan daripada kalian dengan diberi kedudukan yang tinggi ini?”

Namun, mereka tidak heran terhadap batu yang dipahat dan dijadikan tuhan. Inilah kontradiksi yang nyata. Tatkala meragukan Nabi Muhammad saw., mereka menisbatkan beliau kepada tukang sihir dan seorang pembohong.



Wa qalal kafiruna hadza sahirun (orang-orang kafir berkata, "Ini adalah seorang ahli sihir), karena beliau menampilkan aneka perkara yang luar biasa.

Kadz-dzab (orang yang banyak berdusta) tatkala menyandarkan kerasulan dan penurunan wahyu kepada Allah. Dia tidak berfirman kadzibun karena untuk mengejar persamaan bunyi akhir.
Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. (QS. Shad 38:5)

A ja’alal `alihata ilahan wahidan (mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja). Hamzah pada penggalan ini untuk menyatakan ingkar dan mustahil. Alihah jamak dari ilah, padahal semestinya tidak dijamakkan karena sesungguhnya tidak ada yang disembah selain Allah Ta’ala. Namun, tatkala orang Arab meyakini bahwa sembahan-sembahan itu banyak, maka mereka menjamakkan ilah menjadi alihah. Makna ayat: Mengapa Muhammad menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai Tuhan Yang Satu dengan menolak konsep ketuhanan mereka, tetapi dia memfokuskan tuhan-tuhan itu kepada Tuhan Yang Esa? Orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa mereka telah menjadikan Tuhan Yang Esa itu menjadi tuhan yang banyak.

Ina hadza lasyai`un 'ujab (sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan). 'Ujab semakna dengan 'ajib. Namun, 'ujab lebih mendalam daripada 'ajib. Allah Ta'ala berfirman, Dan melakukan tipu-daya yang amat besar. (QS. Nuh 71:22). Kubbaran berarti besar yang tak terbatas. Makna ayat: Sungguh sangat mengherankan karena ketuhanan Nabi saw. bertentangan dengan apa yang disepakati bapak-bapak kami hingga sekarang ini.

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka seraya berkata, "Pergilah kamu dan tetaplah menyembah ilah-ilahmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. (QS. Shad 38:6)

Wanthalaqal mala`u minhum (dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka). Para pemuka Quraisy sebanyak 25 orang pergi meninggalkan majelis Abu Thalib setelah Rasulullah saw. membuat mereka tidak berkutik karena jawaban beliau yang cemerlang. Mereka menyaksikan keteguhan dan tekad beliau untuk memenangkan agamanya atas seluruh agama. Mereka putus asa dari apa yang pernah mereka harapkan melalui Abu Thalib untuk kemaslahatan keyakinanan mereka.

Animsyu (pergilah kalian), yakni sekelompok pemuka di antara mereka pergi seraya sebagian mereka berarti menasihati sebagian yang lain supaya berjalan dan meninggalkan dia, karena tidak ada gunanya berbicara dengan orang ini.

Wasbiru 'ala alihatikum (dan bersabarlah terhadap tuhan-tuhanmu), yakni tetaplah menyembah tuhan-tuhanmu seraya memikul cecan celaan yang kalian dengar dari Muhammad saw.

Inna hadza (sesungguhnya ini). Yakni ini yang kita saksikan dari Muhammad berupa urusan tauhid, pengingkaran atas tuhan-tuhan kita, dan pembatilan urusan kita…

Lasyai`un yuradu (benar-benar suatu hal yang dikehendaki) oleh pihak Nabi saw. untuk diwujudkan dan direalisasikan tanpa ada yang dapat memalingkannya dan yang mampu meredamnya, baik dengan ungkapan lisan atau dengan perintah supaya dia toleran. Karena itu, hentikanlah keinginan kalian meminta dia agar meninggalkan pendapatnya. Cukuplah bagi kalian jika dia tidak menghalang-halangi kita menyembah tuhan-tuhan kita, tetaplah menyembahnya, dan tabahlah atas celaan dan perkataan buruk yang kalian dengar darinya tentang tuhan-tuhan kalian. Maksud perkataan mereka ialah: Inilah urusan dan muslihat yang dia inginkan dari kita.
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini tidak lain hanyalah dusta yang diada-adakan. (QS. Shad 38:7)

Ma sami'na bihadza (kami tidak pernah mendengar hal ini), tidak pernah mendengar apa yang dikatakan Nabi saw. berupa kalimat tauhid.

Fil millatil akhirah (dalam agama yang terakhir). Yakni dalam millah yang kami dapatkan dari bapak-bapak kami, yakni millah orang Quraisy dan agama yang dipeluk oleh mereka. Karena millah mereka itu merupakan millah yang terakhir dan millah para pendahulunya.

In hadza illakhtilaqun (tidaklah ini kecuali sesuatu yang diada-adakan), yakni dusta yang diciptakan oleh Nabi saw.
Mengapa al-Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita. Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap al-Qur'an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (QS. Shad 38:8)

A unzila 'alaihidz dzikru mim bainina (mengapa al-Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita), padahal kami pemuka manusia, orang yang paling tinggi kedudukannya, paling tua, paling kaya, dan paling banyak menolong? Maksud mereka ialah menginkari keberadaan al-Qur'an sebagai peringatan yang diturunkan dari Allah Ta'ala. Alasan yang mereka lontarkan itu batil dan menunjukkan kedengkian terhadap Rasulullah saw. karena keistimewaan beliau yang memperoleh kedudukan sebagai nabi di antara mereka dan di antara kaumnya yang terhormat. Perhatian mereka hanya terfokus pada kesenangan dunia. Mereka keliru dalam membatasi sesuatu dan membuat analogi. Adapun kekeliruan pertama ialah karena kemuliaan yang hakiki berupa keunggulan internal, bukan keunggulan eksternal. Kekeliruan kedua bahwa Nabi saw. yang dianalogikan dengan diri mereka adalah salah, karena beliau orang yang paling sempurna dan paling unggul. Bagaimana mungkin beliau seperti mereka?

Bal hum fi sakkim min dzikri (sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap peringatan-Ku), yakni al-Qur`an atau wahyu karena mereka condong kepada taklid dan karena mereka berpaling dari bukti-bukti yang menegaskan pengetahuan tentang hakikat al-Qur'an.

Bal lamma yadzuku 'adzabi (sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku). Jika mereka merasakan telah azab-Ku, tampaklah bagi mereka kebenaran al-Qur`an. Pada penggalan ini Allah mengancam mereka. Dia akan merasakan azab-Nya, lalu mereka mencari perlindungan dengan membenarkan al-Qur`an pada saat pembenaran itu tidak bermanfaat. Makna ayat: Sekiranya mereka sudah merasakan azab-Ku dan menjumpai kepedihannya, miscaya mereka takkan melakukan penginkaran. Berkaitan dengan hal ini, dalam atsar dikatakan: Manusia itu dalam keadaan tidur. Jika mati, barulah mereka tidur.
Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi (QS. Shad 38:9)

Am 'indahum khazainu rahmati rabbikal 'azizil wahhabi (atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi). Makna ayat: Ataukah mereka mempunyai perbendaharaan rahmat Allah Ta'ala yang dapat mereka atur selaras dengan kehendaknya, sehingga mereka dapat memberikannya kepada siapa saja yang mereka kehendaki, memalingkannya dari siapa saja yang tidak mereka kehendaki, dan menentukannya selaras dengan pemikiran mereka, lalu memilih temannya sendiri sebagai penerima kenabian? Artinya, kenabian itu merupakan anugerah dari Allah Ta'ala yang diberikan kepada siapa saja dari hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, dan tiada yang dapat menghalangi-Nya, karena Dia Maha Perkasa, yakni Zat Yang Maha Mendominasi, bukan didominasi; dan karena Dia Maha Pemberi yang memberi apa saja yang Dia kehehendaki.
Atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya, maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga (QS. Shad 38:10)

Am lahum mulkus samawati wal ardli wa ma bainahuma (atau apakah bagi mereka kerajaan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya). Ataukah mereka memiliki kekuasaan atas alam semesta ini, baik alam bawah maupun alam atas, sehingga mereka dapat berbicara tentang aneka urusan ketuhanan? Dan mereka dapat mengontrol aturan ketuhanan yang merupakan hak penuh Rabb pemilik kekuasaan dan keagungan.

Falyartaqu fil asbab (maka hendaklah mereka menaiki tangga-tangga). Irtiqau berarti naik, sedangkan sabab berarti tali yang digunakan untuk naik. Makna ayat: Jika mereka memiliki kekuasaan seperti itu, maka naikilah tangga-tangga yang mengantarkan mereka menuju arasy, sehingga mereka dapat mengatur urusan alam semesta dan menurunkan wahyu kepada orang yang mereka pilih. Pada penggalan ini Allah sangat mencela mereka.
Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan. (QS. Shad 38:11)

Jundum ma hunalika mahzumum minal ahzab (suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat, pasti akan dikalahkan). Jundun ialah kelompok orang yang dipersiapkan untuk berperang. Ma pada pada penggalan ini merupakan huruf tambahan yang bermakna menyedikitkan dan mencela. Ungkapan akaltu syai`an ma (aku memakan sesuatu). Makna ayat: Mereka sebagai tentara pembela kaum kafir yang diserang dan dikalahkah oleh Rasul dari jarak dekat. Janganlah kamu mempedulikan apa yang mereka katakan dan jangan pula engkau memperhatikan celotehan mereka. Artinya, kaum kafir Quraisy tidak memiliki hujjah dan berhala-berhala mereka tidak mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat dan madharat; tidak memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat dan memalingkannya dari diri mereka.

Telah mendustakan rasul-rasul pula sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Aad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak (QS. 38 Shad:12)

Kadz-dzabat qablahum (telah mendustakan sebelum mereka itu). Yakni sebelum kaum, hai Muhammad. Mereka merujuk kepada kaum Quraisy.

Qaumu nuhin (kaum Nuh). Yakni mereka mendustakan Nuh, padahal beliau mengajak mereka kepada jalan Allah dan keesaan-Nya selama 950 tahun.

Wa 'adun (dan 'Aad), Yakni kaum Nabi Hud.

Wa fir'aunu (dan Fir'aun), Yakni kaum Nabi Musa as.

Dzul autadi (yang mempunyai tentara yang banyak). Autad jamak dari watad yang berarti kayu yang ditanam pada tanah atau dinding. Makna ayat: Yang memiliki kerajaan yang kokoh, karena kerajaan Fir'aun dapat bertahan selama 400 tahun tanpa tergoyahkan. Makna asal autad digunakan pada kekokohan kemah dengan cara mengikatkan talinya pada pasak-pasak yang tertancap ke dalam tanah. Lalu kata itu digunakan sebagai metafora dalam mengungkapakan kekokohan kerajaan dan kuatnya kekuasaan. Penggalan ini dapat berarti yang memiliki tentara yang banyak. Dikatakan demikian karena mereka mengokohkan negeri dan kerajaan; sebagian mereka mengokohkan sebagian yang lain seperti pasak mengokohkan bangunan dan kemah.

Diriwayatkan, Seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain laksana sebuah bangunan. Sebagian bangunan itu mengokohkan bagian yang lain. (HR. Syaikhan, Turmudzi, dan Nasai). Artinya, seorang Mukmin tidak akan kokoh dalam urusan agama dan dunianya kecuali dengan pertolongan saudaranya, sebagaima sebagian bangunan mengokohkan bagian lainnya.



Cukuplah sebagai bukti banyaknya tentara Fir'aun bahwa dia berkata tentang Bani Israil, Fir'aun berkata, "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil (QS. Asy-Su'ara 26:54). Padahal Bani Israil berjumlah kurang lebih 600 ribu prajurit. Autad dapat pula diartikan secara hakiki, yakni pasak, bukan sebagai metafora. Karena hal ini selaras dengan riwayat yang mengatakan bahwa Fir'aun memiliki pasak-pasak besi yang digunakan untuk menyiksa manusia. Jika dia marah kepada seseorang, maka orang itu direntangkan di atas tanah, kemudian tangan, kaki, dan kepalanya dipasak.

Dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu. (QS. Shad 38:13)

Wa tsamudu (dan Tsamud), yitu kaum Nabi Shalih. Beliau membawa seekor unta kepada mereka, lalu mereka mendustakannya dan membunuh unta itu, sehingga Allah membinasakan mereka.

Wa qaumu luthin (kaum Luth). Mujahid berkata, "Mereka pernah memiliki 400.000 rumah. Namun, mereka mendustakan nabi mereka. Lalu Allah membinasakannya.

Wa ashabul aikati (dan penduduk Aikah), yakni kaum Syu'aib, penghuni hutan rimba. Aik berarti pohon yang rimbun. Dikatakan: Aik ialah nama sebuah negeri.

Ula`ikal ahzabu (mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu). Penggalan ini sebagai keterangan penjelas bagi kaum-kaum yang telah disebutkan, yakni golongan yang bersekutu menentang nabi mereka. Para nabi mengalahkan tentara mereka, di antaranya kaum Quraisy.
Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah bagi mereka azab-Ku. (QS. 38:14)

In kullun illa kadz-dzabar rusula (mereka semua itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul). Yakni semua golongan dan kelompok dari mereka yang bersekutu itu mendustakan rasulnya semata. Penggalan ini dijelaskan dengan memasangkan jamak dengan jamak lagi, sehingga setiap individu berpasangan dengan individu. Makna ayat: Tidaklah setiap orang di antara mereka melainkan divonis sebagai orang yang mendustakan Rasul.

Fahaqqa 'iqabi (maka pastilah azab-Ku). Yakni, ditetapkan dan ditimpakan adzab-Ku kepada setiap golongan dari mereka, Yakni berbagai jenis siksa yang dijelaskan peristiwa penurunannya.

Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang. (QS. Shad 38:15)

Wa ma yanzhuru ha`ulai (tidaklah yang mereka tunggu). Penggunaan kata ha`ulai untuk menunjuk kaum kafir Mekah dimaksudkan untuk mencela dan menghinakan mereka. Makna ayat: Tidaklah kaum kafir itu menunggu; Yakni orang yang sejenis dengan golongan yang dikemukakan di atas, yang telah dibinasakan disebabkan kekafiran dan pendustaan.

Illa shaihataw wahidah (melainkan hanya satu teriakan saja), yakni dengan tiupan sangkakala kedua. Makna ayat: Tidak ada jarakan antara mereka dengan datangnya siksa mengerikan yang dipersiapkan untuk mereka melainkan sekadar penangguhan hingga datangnya hari akhirat. Penangguhan dilakukan karena pembinasaan mereka hingga ke akar-akarnya selaras dengan apa yang semestinya mereka peroleh, sedang Nabi saw. berada di tengah-tengah mereka, adalah menyalahi sunnah ilahiyah yang didasarkan atas aneka hikmah yang cemerlang. Hal ini ditegaskan Allah Ta'ala, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. (QS. Al-Anfal 8:33).

Ma lahum min fawaq (tidak ada baginya saat berselang). Yakni tidak ada jeda antara tiupan meskipun sekadar waktu perahan yang satu dengan yang lain. Makna ayat: Apabila telah tiba waktu kiamat, maka tiada penangguhan sesingkat apa pun sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya". (QS. QS. Al-'Araf 7: 34). Kata sa’ah berarti sekejap waktu.

Kedua ayat di atas menghibur Nabi saw. dan membebaskannya dari kegundahan oleh kaum kafir Mekah agar hati beliau tidak menjadi sempit karena pendustaan mereka dan agar beliau tidak bersedih disebabkan kekafiran mereka, sebab kaum-kaum yang bersekutu itu telah mendustakan para rasul sebagaimana kaum Quraisy mendustakannya, padahal kaum-kaum itu adalah kaum yang banyak jumlahnya dan kuat tentaranya. Namun, jumlah dan kekuatan mereka itu tidak berguna sedikit pun. Begitu pula dengan keadaan kaum Quraisy.



Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari dihisab". (QS. Shad 38:16)

Wa qalu (dan mereka berkata) dengan gaya mencemooh dan mengolok-olok tatkala mendengar penangguhan siksa hingga hari akhirat. Orang yang berkata pada ayat ini ialah an-Nadlir bin al-Harts. Dia adalah salah seorang penjahat dari golongan mereka. Dan dia pula yang berkata, "Dan ingatlah, ketika mereka orang-orang musyrik berkata, 'Ya Allah, jika betul al-Qur'an ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'". (QS. Al-Anfal 8:32)

Rabbana (ya Tuhan kami). Doa mereka ddimulai dengan seruan rabbana, semata-mata untuk mengolok-olok secara mendalam. Seolah-olah mereka berdoa dengan penuh pengharapan dan sepenuh hati.

'Ajjil lana qith-thana qabla yaumil hisab (cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari dihisab). Qith’ berarti potongan sesuatu. Namun, yang dimaksud pada ayat ini ialah bagian dan nasib, karena potongan itu terpisah. Makna ayat: Cepatkanlah untuk kami bagian dan perolehan yang buruk berupa azab yang diancamkan kepada kami oleh Muhammad, dan janganlah Engkau menangguhkannya hingga hari perhitungan yang permulaannya adalah tiupan.

Sahal at-Tusturi berkata, "Tidaklah mendambakan kematian kecuali tiga golongan: orang yang tidak mengetahui apa yang ada setelah kematian, orang yang lari dari takdir Allah, dan orang yang rindu dan ingin bertemu dengan Allah".



Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat kepada Allah. (QS. 38:17)

Ishbir (bersabarlah), wahai Muhammad.

'Ala ma yaquluna (atas segala apa yang mereka katakan) karena sebentar lagi Allah akan menurunkan pertolongan bagimu dan akan memenuhi permintaan mereka.

Syah al-Kirmani berkata: Sabar terdiri dari tiga perkara: tidak mengeluh saat sakit, rela dengan tulus, dan menerima ketetapan dengan senang hati.



Wadzkur (dan ingatlah) dengan hati.

'Abdana (hamba Kami) yang distimewakan dengan pertolongan Kami di masa lalu.

Dawuda (Dawud), cucu Yahuda bin Ya'qub as. Selisih waktu antara beliau dan Musa as. ialah 569 tahun. Dia melaksanakan syariat Musa as. dan hidup selama 100 tahun.

Dzal aidi (yang mempunyai kekuatan). Al-Aid berarti kekuatan yang besar. Makna ayat: Yang mempunyai kekuatan dalam beragama dan teguh dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan. Ketahuilah bahwasannya pada penggalan ini Allah Ta'ala, pertama-tama, memaparkan kekuatan Dawud as. pada urusan agama. Lalu menceritakan ketergelincirannya selaras dengan ketetapan azali. Selanjutnya tentang tobatnya selaras dengan pertolongan-Nya. Dan Allah Ta'ala memerintahkan Nabi saw. untuk mengingat kondisi dan kekuatan nabi Dawud dalam aspek ketaatan supaya beliau teguh dalam bersabar dan agar beliau tidak tergelincir dari wilayah keistiqamahan.

Innahu awwab (sesungguhnya dia amat taat). Awwab berasal dari aub yang berarti kembali. Makna ayat: Dia gemar kembali kepada Allah dan keridla-Nya; kembali dari semua yang dibenci Allah menuju apa yang disukai-Nya. Penggalan ini menjelaskan mengapa Nabi Dawud as. memiliki kekuatan dan menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al-awab ialah kekuatan dalam urusan agama, bukan kekuatan fisik, sebab kembalinya Dawud menuju ridla Allah tidak memastikan adanya kekuatan fisik. Di antara kekuatan ibadah Dawud adalah dia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dia tidur pada setengah malam yang pertama, lalu shalat pada sepertiganya, dan tidur lagi pada seperenamnya. Hal ini selaras dengan apa yang terdapat dalam al-Masyariq bahwa Nabi saw. bersabda,

Shaum yang paling disukai Allah adalah shaum Dawud, yakni shaum sehari dan berbuka sehari. Dan salat sunat yang paling disukai Allah adalah salat Dawud, yakni tidur di tengah malam, lalu bangun di sepertiga malam, dan tidur lagi di seperenamnya. (HR. Syaikhan, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah).

Jenis ibadah ini menjadi amal yang paling disukai semata-mata karena apabila manusia tidur pada dua pertiga malam, maka dia menjadi lebih ringan dan lebih giat dalam beribadah.


Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi, (QS. Shad 38:18)

Inna sakharnal jibala ma'ahu (sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung bersama dia). Penggalan ini menjelaskan keunggulan nabi Dawud. Makna ayat: Kami taklukkan ...

Yusabbihna (bertasbih). Yakni gunung-gunung mensucikan Allah Ta'ala bersama Dawud as. Allah Ta'ala tidak berfirman, "Musbihat" karena untuk menunjukkan bahwa gunung-gunung senantiasa bertasbih dari waktu ke waktu. Dawud mendengar dan memahami tasbihnya gunung-gunung. Hal ini merupakan karamah dan mu'jizat baginya. Bertasbihnya gunung-gunung bersama Dawud merupakan kenyataan, tetapi tatkala tasbih itu dilakukan menurut cara yang khusus dan terdengar dengan cara yang khusus pula, maka ia berada di luar jangkauan akal, sehingga ia merupakan bagian dari mu'jizat dan karamah Dawud as.
  1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©azrefs.org 2016
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə